Bersih Desa
Bersih Desa
Pelaksanaan
Bersih desa biasanya diadakan pada bulan Sela atau Syawal, yaitu bulan ke-11 Kalender Jawa.[1] Untuk tanggal, setiap desa berbeda pelaksanaannya, namun yang pasti semua mengambil waktu di bulan Sela.[1] Dalam upacara bersih desa ada sedekah bumi yang biasanya berupa nasi tumpeng dan lauk pauk yang dibuat oleh warga desa.[1] Seluruh makanan yang ada dalam upacara bersih desa merupakan hasil sumbangan keluarga-keluarga di desa.[1] Upacara bersih dsa wajib diikuti oleh orang yang sudah dewasa.[1] Di berapa daerah upacara bersih desa juga dilengkapi dengan pertunjukan wayang semalam suntuk.[2]
Tujuan
Bersih desa, sebagai upacara adat, memiliki makna spiritual di baliknya.[2] Pertama-tama bersih desa bertujuan untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang didapat.[2] Selanjutnya, upacara bersih desa bertujuan untuk memohon perlindungan kepada danyang sebagai penjaga sebuah desa.[2] Terakhir, tujuan bersih desa adalah untuk memohon berkat agar hasil panen berikutnya melimpah.[2] Selain itu, bersih desa juga memuat tujuan solidaritas di dalamnya.[2] Makanan yang menjadi santapan bersama adalah hasil sumbangan warga sendiri.[2]
Tahapan
Upacara bersih desa dilakukan selama sehari penuh dengan beberapa tahapan.[2] Pada pukul 07.00 dilaksanakan kegiatan bersih-bersih seluruh lingkungan desa.[2] Selain itu mulai dipersiapkan pula alat-alat untuk upacara seperti tikar, panggung, dan tempat sesaji.[2] Pagar pohon yang dikeramatkan di desa juga diganti dengan yang baru.[2] Sementara itu, beberapa anggota yang lain mempersiapkan makanan untuk upacara.[2] Pada jam 12.00 kepala desa akan memukul kentongan sebagai tanda semua makanan sudah harus siap diantar ke rumah kepala dusun.[2]
Setelah semua siap, menjelang sore seluruh warga yang sudah dewasa berkumpul ditempat yang telah ditentukan oleh masing-masing desa untuk memulai upacara.[2] Pertama-tama biasanya dibacakan doa-doa dan mantra.[2] Biasanya juga diceritakan kisah Dewi Sri yang menjadi pelindung para petani.[2] Upacara diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan pembagian makanan.[2] Selama upacara ini sesaji juga diletakkan di keempat sudut desa.[2] Dipercaya setiap sudut desa dijaga oleh anak danyang.[2] Terakhir, jika memungkinkan, diadakan pertunjukan wayang selama semalam suntuk.[2] Lakon yang dibawakan dalam pentas wayang bermacam-macam, misalnya Bharatayuda, Wahyu Makutharama, Wahyu Purbasejati, Wahyu Gada Inten.[2] Setelah seluruh tahapan ini dipenuhi maka upacara bersih desa dianggap sah.[2]
Rujukan
- Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka. hlm. 374-376.
- Suwardi (2006). "Mistisime dalam Seni Spiritual Bersih Desa di Kalangan Penghayat Kepercayaan". Universitas Negeri Yogyakarta.