Corinus Krey
Mayor Tituler TNI AU Corinus Marselus Koreri Krey (atau Corinus Krey, Korinus Krey) adalah seorang pejuang asal Papua. Kisah perjuangan Corinus berawal dari gerakan pemuda yang dirintis Kepala Sekolah Beestur (Pamong Praja) Jayapura, Soegoro Atmoprasodjo dan Corinus Krey (ajudan Soegoro). Soegoro adalah salah satu penggerak nasionalisme di Papua dan pada tanggal 1 April 1945 mencetuskan ide untuk mengubah nama Papua, yang berasal dari kata Papo Ua yang dipakai oleh Kerajaan Tidore yang dalam bahasa Tidore artinya "tidak bergabung", "tidak bersatu", atau "tidak bergandengan". Maksudnya wilayah Papua itu jauh sehingga tidak masuk dalam daerah induk Kesultanan Tidore[1], walau sering tertukar dengan Papa Ua yang memiliki arti 'tiada bapa'.[2]
Dalam rangka mengangkat harkat dan martabat Papua, maka pemuda-pemuda Papua dalam pertemuan di Tobati, berpikir untuk mencari nama lain yang juga berasal dari sejarah Papua yakni Hikayat Koreri. Maka, diskusi Corinus Krey dan Frans Kaisiepo, ketua diskusi yang terjadi di Jayapura pada tanggal 1 Mei 1945, melahirkan nama 'Irian' sebagai ganti kata 'Papua'.
Corinus Krey berulang-ulang menceritakan kepada anak cucunya, yang mengartikan 'Irian' berarti 'Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland'.
Ketika itu pejabat Belanda ingin membungkam gerakan nasionalisme Indonesia di Papua. Frans Kaisiepo dan Corinus Krey mengambil kata 'Irian' dari bahasa Biak yang artinya 'panas' karena tanah Papua adalah tempat matahari terbit. Promosi nama dilakukan kepada kepala-kepala suku dan dititipkan kepada Frans Kaisiepo yang mewakili pemuda Papua dalam Konferensi Malino tanggal 18 Juli 1946.
Pada 1947, Krey bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka (KIM) sebagai Sekretaris II di bawah pimpinan Dr Gerungan. Organisasi ini adalah motor pergerakan politik menentang Belanda dan di sinilah Krey mulai berjuang bersama Marthen Indey yang menjabat Komisaris 1 KIM. Ketika Belanda mengendus KIM, Dr Gerungan dipulangkan ke Ambon dan KIM akhirnya digerakkan oleh Marthen Indey dan Corinus Krey.
Kedatangan Corinus Krey ke Pulau Biak pada 7 Agustus 1949 akan mengaktifkan kembali aktivitas Partai/Perserikatan Indonesia Merdeka (PIM) di Bosnek, sebelumnya didirikan pada September 1945 di Nusi. Tanggal 1-5 Oktober 1949, ada pertemuan di rumah David Rumaropen, kepala kampung Yenures, dimana PIM direorganisir dan diaktifkan kembali, dengan ketuanya Lukas Rumkorem, Corinus Krey sebagai wakil ketua, J. Tarumaselly sebagai penasihat dan Petrus Warikar sebagai sekretaris.[3]
Sepanjang hidupnya, Corinus Krey empat kali merasakan kejamnya penjara Belanda di Papua, yaitu penjara Kota Nica Jayapura (1-7 Desember 1945), penjara Abepura, Jayapura (7 Maret 1947 hingga 7 Agustus 1947), penjara Biak (7 Desember 1949 hingga 7 Juni 1950), dan yang terlama adalah tujuh tahun di Penjara Digul (7 Juni 1950 hingga 7 Agustus 1957).
Kepada putranya, Max Krey, Corinus pernah menceritakan bahwa Belanda pernah menanam bagian perut dirinya ke bawah dalam kubangan dan diplester dengan semen hingga mengeras, sehingga menyisakan bagian perut ke bawah membiru dalam waktu yang lama.
Dokumen kesaksian bahwa Corinus Krey pernah dipenjara empat kali ditandatangani oleh Marthen Indey. Selain sebagai motor penggerak pembebasan Papua, Marthen Indey jadi 'rekan di penjara yang sama' bagi Corinus Krey.
Marsma Budhi menilai kesaksian Marthen Indey terhadap Corinus Krey yang menjadi rekan seperjuangannya adalah hal yang menarik. Sepertinya Marthen Indey yang jauh lebih senior dari Krey sudah mengantisipasi, saat dirinya berpulang maka akan semakin sedikit yang akan bisa menjadi saksi kepahlawanan sahabatnya tersebut.
Selain pernah berdinas di Lanud Jayapura sebagai perwira TNI AU, Corinys Krey juga merupakan anggota MPRS Tahun 1964-1968 dan pemegang bintang veteran RI.[4] Pada akhir masa hidupnya, Krey dirawat oleh cucu Marthen Indey bernama Aksamina Talapessy,[5] dan wafat pada tahun 1992.[6]
Referensi
- Wanggai, Tony V.M. (2008) (dalam bahasa id). Rekonstruksi Sejarah Islam di Tanah Papua (Tesis). UIN Syarif Hidayatullah. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/7292/1/Toni%20Victor%20M.%20Wanggai_Rekonstruksi%20Sejarah%20Umat%20Islam%20di%20Tanah%20Papua.pdf. Diakses pada 2022-01-30.
- "Menggali Sejarah Papua dari Tidore". MaritimNews.com. Diakses tanggal 2022-09-08.
- Materay, Bernarda; Wabisay, Yan Dirk (2020-07-01). "PERTUMBUHAN NASIONALISME INDONESIA DI KALANGAN ORANG PAPUA 1963--1969 GROWTH OF INDONESIA NATIONALISM AMONG THE PAPUANS 1963--1969". Masyarakat Indonesia. 45 (1): 1–18. doi:10.14203/jmi.v45i1.883. ISSN 2502-5694. Diakses tanggal 2022-06-25.
- https://news.detik.com/berita/d-5374024/mengenal-corinus-krey-pejuang-pembebasan-papua-dan-pencetus-nama-irian
- Kandipi, Hendrina Dian (2021-02-18). Jauhary, Andi, ed. "Dunia sudah waktunya mengenal sosok Corinus Krey dari Papua". ANTARA News. Diakses tanggal 2022-08-11.
- "Budhi Achmadi Ungkap Lanud Silas Papare Dukung Corinus Krey Jadi Pahlawan Nasional Papua". #PapuaUS - Papua Untuk Semua. 2021-02-20. Diakses tanggal 2022-08-11.