La Ode Saete

La Ode Saete gelar Omputo Sorano Masigi (1816-1830)


La Ode Saete (gelar Omputo Sorano Masigi) adalah Putera dari Wa Ode Kadingke (Anak La Ode Zainal Abidin Bin La Ode Husaini gelar Omputo Sangia Bin La Ode Abdul Rahman gelar Sangia Latugho) dengan Daeng Marewa (Bangsawa Bugis) alias Yang Dipertuan Muda Johor-Lingga Opu Daeng Marewah gelar Kelana Jaya Putra (di KesultananJohor-Lingga) Bin Opu Tenri Burong Daeng Rilleke yang juga kerabat Kerajaan Luwu, Bone, Wajo, Tanete, dsb., dan juga menjadi panglima perang memimpin perlawanan pada Raja La Ode Sumaili yang juga merupakan masih kerabat atau keluarga dari Wa Ode Kadingke Sendiri. Perang saudara tersebut terjadi akibat adanya salah paham mengenai penetapan aturan adat pernikahan Wa Ode Kadingke dan Daeng Marewah. Setelah Wa Ode Kadingke berhasil mengalahkan La Ode Sumaili, maka Sarano Wuna mengangkat La Ode Saete Putera Wa Ode Kadingke sebagai Raja menggantikan La Ode Sumaili yang telah dikalahkannya.

Pada waktu yang bersamaan, Belanda menunjuk La Ode Wita dari Kesultanan Buton Sebagai Raja Muna sehingga pada waktu itu terjadi dualisme kekuasaan di Muna. Alasan Penunjukan La Ode Wita sebagai Raja Muna oleh Koalisi Buton – Belanda tersebut karena Wa Ode Kadingke dianggap telah melanggar kesepakatan yang telah dibuat antara pihak Wa Ode Kadinge dengan Koalisi Buton – Belanda pada saat Wa Ode Kadingke meminta bantuan Belanda dan Buton untuk melawan Raja La Ode Sumaili.

Namun Sarano Wuna berpendapat lain, menurut Sarano Wuna kesepakatan yang telah dibuat oleh para pihak tersebut tidak dapat dikatakan sebagai kesepakatan antara Pemerintahan karena selain waktu itu Wa Ode Kadingke bukan seorang raja juga kesepakatan tersebut tidak mendapat persetujuan Sarano Wuna. Untuk itu Sarano Wuna berkesimpulan sendiri yaitu dapat saja mengesampingkan kesepakatan itu dan berhak mengangkat Raja berdaarkan hasil permusyawaratan Sarano Wuna.

Kendati Sarano Wuna tidak mengakui penunjukan La Ode Wita sebagai Raja Muna, Namun Kesultanan Buton tetap memaksakan keinginannya itu. Dibawah pengawalan tentara Kolonial Belanda dan Kesultanan Buton, La Ode Wita diantar ke Wuna untuk menjalankan kekuasaannya sebagai Wali Raja.

Intervensi. Kesultanan Buton tersebut tentu saja mendapat penolakan dari Rakyat Kerajaan Muna dan Sarano Wuna Akibatnya terjadi beberapa kali perang bersenjata antara kedua Kerajaan.Selama masa pemerintahan La Ode Saete tercatat lebih dari lima kali terjadi perang terbuka antara Kerajaan Muna dengan Kolaisi Buton-Belanda.

Karenanya sejak awal pemerintahan La Ode Saete, Belanda dan sekutunya Buton memerangi Kerajaan Muna sebagai akibat dari penolakan Sarano Wuna dan Rakyat Muna terhadap pengangkatan La Ode Wita sebagai Raja Muna yang di tunjuk oleh Belada, maka selama masa pemerintahannya tidak ada perubahan sigifikan yang dilakukannya.

Menghadapi dua kekuatan besar tersebut, La Ode Saete tidak gentar. Dia terus menggalang kekuatan serta menyusun strategi dalam menghadapi perang tersebut dengan menyeruhkan perang semesta. Strategi yang pertama dipilih oleh La Ode Saete untuk menghadapi perang tersebut adalah meindahkan pusat pemerintahan dekat dengan masjid Muna di Kota Lama Muna. Setelah itu Raja La Ode Saete juga menyususn strategi perang dalam melakukan konfrontasi dengan pasukan Koalisi Buton – Belanda. Strategi yang dilakukan oleh La Ode Saete tersebut ternyata sangat jitu, sehingga Belanda tidak dapat menguasai Kerajaan Muna. Karena La Ode Saete memindahkan Pusat Pemerintahan Kerajaan Muna dekat dengan Masjid, maka setelah mangkat La Ode Saete dianugrahi gelar ‘ Omputo Sorano Masigi’ oleh Sarano Wuna yang artinya raja yang mendekati masjid. Dalam perang antara kerajaan Muna yang dipimpin oleh Raja La Ode Saete dengan pasukan Koalisi Buton – Belanda, beberapa kali Pasukan Koalisi dapat dihancurkan oleh pasukan kerajaan Muna. Tak mampu menundukan Kerajaan Muna, akhirnya La Ode Wita Raja yang dilantik oleh Belanda akhirnya ditarik kembali Ke Kesultanan Buton. Sampai akhir masa pemerintahan La Ode Saete( 1830 ) perang antara Kerajaan Muna dengan pasukan koalisi Buton-Belanda terus berlanjut. La Ode Saete mengakhiri masa pemerintahan karena mangkat.


Referensi

This article is issued from Wikipedia. The text is licensed under Creative Commons - Attribution - Sharealike. Additional terms may apply for the media files.