Laksa Jepara
Laksa Jepara (bahasa Inggris: Jepara laksa) adalah salah satu varian laksa (hidangan mi asal Persia yang biasanya berkuah dan biasanya berlauk) yang berkembang dari tradisi kuliner khas etnis Jawa di wilayah Jepara dan sekitarnya di Indonesia.[1]
| Nama lain | Laksa Jawa Jepara |
|---|---|
| Sajian | Sajian utama |
| Tempat asal | Indonesia |
| Dibuat oleh | Etnis Jawa |
| Suhu penyajian | Hangat; panas |
| Bahan utama | asam jawa, keluak, sambal, santan, tepung beras |
Sejarah
Berdasarkan penuturan Denys Lombard (pakar ilmu adat ketimuran berkebangsaan Perancis) dalam bukunya yang berjudul Le carrefour Javanais: Essai d'histoire globale II (bahasa Perancis yang berarti berarti "Persimpangan Jawa: Esai dalam Sejarah Global II"), salah satu catatan kuno yang menyinggung mengenai Laksa (sebagai hidangan mi) hanya dapat ditemukan dalam prasasti Biluluk berbahasa Jawa Kuno yang berasal dari tahun 1391 era Kemaharajaan Majapahit yang menyebutkan kata Haṅlaksa (ejaan modern: Hanglaksa);[2][3] yang mana kata bahasa Jawa Kuno tersebut memiliki arti "kang laksa" atau "pembuat mi" secara harfiah.[4]
Terminologi
Istilah Laksa secara etimologinya berasal dari bahasa Persia Kuno, yang artinya "licin";[5] merujuk kepada tekstur laksa yang kenyal dan licin saat disantap dikarenakan biasanya hidangan ini dihidangkan secara berkuah. Namun demikian, kata Laksa dalam bahasa Jawa diambil dari bahasa Jawa Kuno[3] (yang kemungkinan diserap dari bahasa Sanskrit). Dalam dialek Jawa Jepara (Jepara Javanese), Laksa juga mungkin dapat dieja dan dikenali sebagai Lakso.
Mengikuti pola pengistilahannya, istilah Laksa ini tak dapat diragukan muncul pertama kali di wilayah Persia dan sekitarnya (yang mana juga mencakup wilayah penutur Sanskrit), hal ini dibuktikan dengan ditemukannya istilah Laksa dalam berbagai bahasa-bahasa pribumi di sekitar wilayah tersebut. Sebagai contohnya, di Afghanistan hidangan ini disebut sebagai Lakhchak, di Armenia disebut Լապշա (Lapsha), di Belarus disebut локшына (Lokšyna), di Kazakhstan disebut лағман (Lağman), di Kyrgystan disebut лагман (Lagman), di Lithuania disebut Lakštiniai, di Palestina (atau juga dikenali sebagai Israel) disebut לאָקשן (Lokshen/Lokshyn),[lower-alpha 1] di Mongolia disebut лапша (Lapsha), di Myanmar disebut ခေါက်ဆွဲ (Lakhaoswè/Khaoswè), di Russia disebut лапша (Lapsha), di Tiongkok barat disebut لەڭمەن (Lagmen),[lower-alpha 2] di Ukraina disebut локшина (Lokshyna), sedangkan di Uzbekistan disebut Lagʻmon.
Ciri khas
Bahan dasar mi
Bahan dasar yang digunakan dalam Laksa Jepara ialah tepung beras serupa dengan bahan dasar bihun.
Kuah
Pada kuahnya, Laksa Jepara biasanya bertekstur sangat pekat menggunakan campuran berbagai rempah khas yang dicampurkan bersama dengan santan. Warna kuah Laksa Jepara biasanya cenderung agak oranye khas kuah Opor. Asam jawa, kecombrang yang dihaluskan, keluak, pala, dan sedikit gula jawa terkadang digunakan sebagai salah satu pemerkaya cita rasa yang mencerminkan khazanah kuliner Jawa Tengah pada umumnya.
Lauk
Lauk yang digunakan dalam Laksa Jepara cukup beragam tergantung selera penikmat dan ketersediaan; namun lauk seperti telur ayam rebus, suwiran daging ayam, dan udang cukup umum digunakan.
Pelengkap
Penambahan irisan daun bawang, bawang goreng, kucai, seledri, serta kemangi juga menjadi salah satu detail pelengkap Laksa Jepara.
Referensi
- "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-03-20. Diakses tanggal 2012-12-06.
- Yamin, Muhammad (1962). Tatanegara Madjapahit (dalam bahasa Bahasa Indonesia and Kawi). 2. Prapantja.
- Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indië (1912). Oudheidkundig Verslag [Laporan Arkeologi] (dalam bahasa Belanda).
- Lombard, Denys (1996). Nusa Java : Réseau Asiatique [Nusa Jawa: Jaringan Asia] (dalam bahasa Prancis and Inggris). University of Michigan.
- Vaughan, Julian; Metcalfe (2016). Itsu 20-minute Suppers: Quick, Simple & Delicious Noodles, Grains, Rice, & Soups [Itsu Makan Malam 20 Menit: Hidangan Mie, Biji-bijian, Nasi, & Sup yang Cepat, Sederhana & Lezat] (dalam bahasa Inggris). Octopus. ISBN 9781784721800.
In fact, the word "laksa" derived from an ancient Persian word for noodles, "lakhsha", meaning slippery. [Secara faktanya, kata "laksa" berasal dari kata Persia Kuno untuk mi, "lakhsha", yang berarti licin.]