Raden Mas Sodewo
Cukup sulit membedakan mana yang merupakan fakta sejarah obyektif dan mana yang subyektif atau bahkan sekadar dongeng. Belum banyak masyarakat yang tahu kisah Ki Sodewo,yang berjuang di wilayah Bagelen dan Kulonprogo pada masa sesudah Perang Diponegoro atau yang dikenal Belanda sebagai Perang Jawa. Hanya sedikit penduduk di sekitar kota Wates yang tahu lokasi makam tubuh Ki Sodewo. Bahkan makam ini tidak terletak di Taman Makam Pahlawan Giripeni yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari pemakaman umum Sideman, tempat dimana Ki Sodewo dimakamkan. . Dan mungkin tinggal tersisa sangat sedikit orang yang tahu bahwa di daerah Jrangking, dekat pemandian Clereng, Kulon Progo ada daerah bernama Gunung Songgo yang merupakan petilasan tempat disangganya kepala Ki Sodewo dengan bambu. Belanda sengaja memisahkan kepala dari makam tubuhnya karena menurut cerita apabila kepala dan tubuh Ki Sodewo masih menyatu Belanda khawatir Ki Sodewo bisa hidup kembali karena kesaktiannya yang luar biasa. Ki Sodewo terlahir di wilayah Madiun pada tahun, bernama Bagus Singlon, ini sebenarnya tidak ada data valid sehingga belum bisa menjadi patokan. Belum banyak data tentang tokoh ini. Pada masa kecilnya dititipkan pada seorang kyai bernama Ki Tembi di Madiun. Belum ada yang tahu siapakah tokoh ini, beberapa naskah merujuk trah kertanadi. Bagus Singlon mencari siapa sesungguhnya ayahnya. Sambil menunggu saat perjumpaan dengan ayahandanya, Bagus Singlon tinggal bersama Kyai Gothak di daerah Panjatan, Kulon Progo. Bagus Singlon rajin menempa ilmu kanuragan dari Kyai Gothak maupun para guru lain. Bahkan Bagus Singlon belajar ilmu Pancasona sampai ke daerah Bagelen. Oleh ayahandanya Bagus Singlon diberi julukan Ki Sodewo. Nama itu berasal dari kata Laksono dewa,belum ada data yg valid perihal ini) hal ini berbeda dengan naskah Babad Kedung Kebo yaitu disebut sebagai Resodewo (menjaga dewa). Salah satu bukti kedidayaan Ki Sodewo adalah kemampuannya membunuh Jendral Van de Cohler,data masih belum valid , salah satu jendral andalan Jendral Van de Kock, panglima perang Hindia Belanda.Cerita sangat tidak cocok dengan data Hageman maupun data Residen Aceh. Jendral Kohler meninggal tahun 1870, meninggal dibunuh oleh prajurit Aceh, bukan sodewo. Ki Sodewo bergabung dengan Ki Amad Sleman (dukun/sayid palsu asal daerah Ngrabag Purworejo) bersama dengan ketiga anaknya dan saudara-saudaranya pada tahun 1840 serta membangun persaudaraan dengan tokoh-tokoh seperti Kyai Gothak dan Kyai Josuto .Bersama Amad Sleman yang disebut (kraman) Sodewo melakukan gangguan/kraman. Rute gerilya yang pernah dilewati Ki Sodewra lain Panjatan, Milir, Beji, Sentolo, Pengasih, Brosot, Lendah, Nanggulan, Kalibawang, Bagelen dan Wates. Belanda melakukan propaganda bahwa Ki Sodewo adalah bagian gerombolan perampok. Salah satunya tercatat dalam Babad Kedungkebo bahwa Ki Sodewo adalah sekutu penjahat bernama Amat Sleman pada tahun 1838. Sehingga sering mendapat julukan brandal/rampok. Belum ada data tentang Ibu Bagus Singlon, R. Ay. Citrowati, karena data2 trah madiun, ngawi maupun ponorogo tidak ada data tentang sosok citrowati tersebut.Sehingga siapakah ibu sodewo sesungguhnya tidak diketahui. Karena tidak ada data satupun yang merujuk sebagai putra diponegoro atau siapapun. Hanya sedikit diceritakan bahwa Ibu Bagus Singlon, turut dibunuh Belanda pada masa perjuangan. Sehingga Bagus Singlon dititipkan kepada Ki Tembi di Madiun. Kematian Ibunya dan semangat para simbah dan leluhur Bagus Singlonlah mungkin yang membakar jiwa Bagus Singlon. Seperti diceritakan turun-temurun keluarga trah Ki Sodewo maupun buku dongeng rakyat Kulon Progo, kesaktian ilmu ‘'pancasona bumi’' Ki Sodewo mampu membuatnya hidup kembali meskipun terbunuh selama raganya masih menyentuh bumi. Perjuangan Ki Sodewo berakhir ketika dikhianati, yaitu ketika rahasia kesaktiannya dibocorkan oleh adik seperguruan di Bagelen. Karena khawatir akan kesaktian Ki Sodewo, Belanda kemudian memenggal kepala Ki Sodewo dan kemudian tubuh dan kepalanya dimakamkan secara terpisah.
Ki Sodewo
Makam tubuh Ki Sodewo berada di kota Wates. Namun pada saat Kota Wates dibangun, makam tersebut sempat dipindahkan. Pada saat hendak dipindahkan terdapat kendala ketika tidak seorangpun mampu memindahkan makam tersebut. Sehingga dicarilah keturunan Ki Sodewo untuk dimintai tolong memindahkan makam. Akhirnya salah satu keturunan Ki Sodewo yang bernama Mentoirono mampu memindahkannya ke makam Sideman.
Adapun petilasan makam kepala Ki Sodewo saat ini sungguh memprihatinkan. Menurut cerita turun temurun pada zaman Belanda kepala Ki Sodewo tidak dikebumikan namun disangga dengan bambu-bambu di atas perbukitan, yang kemudian dinamakan Gunung Songgo. Saat ini terdapat 2 versi cerita mengenai makam kepala Ki Sodewo. Versi pertama menyebutkan setelah dirasa aman kemudian Belanda memindahkan makam kepala tersebut menyatu dengan tubuhnya. Versi lainnya menyebutkan kepala telah dimakamkan di lokasi Gunung Songgo tersebut dengan hanya ditandai dengan beberapa buah batu bata. versi lain, setelah keadaan aman beberapa pendukung Ki Sodewo menukar tubuh yg dimakamkan dan mengambil kepalanya untuk disatukan, Ki Sodewo hidup lagi. lalu lari ke timur membawa anak perempuannya (cerita ini sangat berbeda dengan cerita dlm naskah Babad Kedungkebo, sodewo bersama ketiga anaknya ikut bergabung bersama KiAmat Sleman untuk melakukan 'kraman' pada tahun 1838. sejak ada Ki Sodewo yang mengenalkan dirinya sebagai Ki Dekso para perampok yg menguasai wilayah itu tak lagi mengganggu wilayah Magetan. saat puteri nya beranjak dewasa sang bupati ingin mengambilnya menjadi selir namun karena Ki Dekso tidak menyetujui ia di penjarakan dan hendak diserahkan pada belanda. dengan berpura2 setuju dan hendak mempersiapkan puterinya untuk diserahkan Ki Dekso bisa kabur lalu menjemput dan membawa puterinya kabur pula. saat itu bupati telah memanggil pasukan belanda untuk mengejar Ki Sodewo. Ki Sodewo yg berjakan kaki bersama puterinya tak bisa cepat dan terkejar di dekat perbatasan desa Temboro dalam jarak belasan langkah si penembak sudah siap dengan senapannya di belakang Ki Dekso alias KI Sodewo. Ki Sodewo telah putus asa untuk bertahan mengambil sebatang tebu dari dekat situ, wilayah Temboro dipenuhi kebun []tebu]]. saat Ki Dekso menoleh si penembak melihat wajahnya yg sangat dikenalnya tak lain adalah Ki Sodewo yang pernah dirobohkannya dengan peluru emas lalu dipenggal kepalanya di depan matanya. bahkan sebelum2nya ia juga pernah menembak jatuh orang yg ada di depannya itu, ia tahu benar kehebatan Ki Sodewo . serta merta ia dan pasukannya mengurungkan niatnya lalu balik kanan lari. orang2 sekitar mengira tebu yg dibawa Ki Dekso itulah yg membuat pengejarnya lari dikatakan tebu itu menyala seperti tombak sakti yang siap menyerang. sejak para pengejar kembali ke barat pencarian Ki Sodewo diteruskan beberapa penyerbuan ke desa2 wilayah Magetan dilakukan lagi atas petunjuk para prajurit belanda yg mengenalinya di Magetan.
Setelah peristiwa itu Ki Sodewo diterima oleh Ki Lurah Temboro yg menguasai wilayah itu. Ki Lurah Temboro sebagai tokoh pemimpin ditakuti oleh juga Belanda telah malang melintang di dunia hitam menguasai perdagangan candu wilayah timur juga telah tahu keberadaan Ki Sodewo karena tak sedikit pelarian dari barat yang bergabung di Temboro. Di Temboro Ki Sodewo juga dihormati dan akhirnya putrinya diperistri oleh Ki Lurah Temboro yang belum beristri saat itu.
orang2 di lingkungan kabupaten Magetan saat itu banyak keliru menyebut keberadaan Ki Sodewo yang mengaku sebagai Ki Dekso sering diucapkan Jekso, mbah Jekso, orang mengira di Magetan ada seorang jaksa di zaman itu. ( oleh - keturunan mbah Dekso di Timur ).
Naskah yang terkait Ki Sidewo nasih perlu penelusuran karena baru sedikit naskah primer sejaman yaitu contohnya Babad Kedungkebo
Oleh: Reso Adiwiryo, kedung kamal-Purworejo.