Sarilamak, Harau, Lima Puluh Kota
Nagari Sarilamak adalah sebuah Nagari yang terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Pada saat ini Sarilamak merupakan (IKK) Ibu Kota Kabupaten Lima Puluh Kota, secara geografis Sarilamak terletak 10 km arah utara dari pusat Kota Payakumbuh, di Sarilamak juga membentang jalan lintas yang menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Riau.
Sarilamak | |
|---|---|
| Negara | |
| Provinsi | Sumatra Barat |
| Kabupaten | Lima Puluh Kota |
| Kecamatan | Harau |
| Luas | |
| • Total | 416,80 km2 (160,93 sq mi) |
| Populasi (2010) | |
| • Total | 46,718 |
| • Kepadatan | 110/km2 (290/sq mi) |
Sarilamak | |
|---|---|
| Zona waktu | UTC+7 (WIB) |


Sejarah
Konon kabarnya, kata “Sarilamak” berasal dari kata "sairih lamak" yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti "sepotong enak". Berdasarkan cerita sesepuh nagari, dahulunya di desa ini tinggal seorang anak dan ibunya yang hidup pas-pasan. Anak itu bernama amat dan ibunya yang biasa dipanggil nur. Mereka mempertahankan hidup hanya dengan memanfaatkan alam sekitar, misalnya mereka mengambil hasil alam yang bisa dimakan.
Pada suatu pagi, amat dan ibunya berniat mencari apa yang akan mereka makan hari ini. Mereka berniat mencari siput di sawah, para penduduk desa lainnya yang juga mengerti akan keadaan mereka. Mereka mencari siput di sawah yang diminta oleh pemiliknya. Karena itu juga membantu si pemilik sawah terhindar dari seringnya itik ke sawahnya untuk mencari siput. Amat dan ibunya sangat berterima kasih kepada penduduk setempat yang sekali-sekali membantu mereka, baik itu moril maupun materil. Saat Amat sedang asik mencari siput sawah, dia melihat seekor binatang yang menyerupai ular, amat mengambil sebuah ranting, yang awalnya berniat untuk mengusir binatang itu. Tapi setelah dilihatnya lagi binatang itu tidak berusaha melawan ataupun menggigitnya. Kemudian Amat pun menangkapnya dan memasukkan binatang itu ke keranjang yang telah disediakan untuk meletakkan siput yang telah dia tangkap. Dia segera berlari sambil berteriak memanggil ibunya dengan girangnya yang pada saat itu jauh darinya. Nafas Amat pun terengah-engah karena berlari, Amat berkata pada ibunya tentang apa yang telah didapatnya tadi. Ibunya hanya tersenyum melihat anaknya yang sangat senang, seolah mendapat barang berharga.
Nur pun melihat apa yang didapat oleh anaknya, dia sedikit terkejut. Tapi setelah kembali mendengar penjelasan anaknya dan langsung meraba binatang itu. Pikirannya mulai mencerna dan berpikir binatang apa itu, binatang seperti ular itu hanya berusaha melepaskan diri dari tangannya. Nur memberi tahu anaknya untuk segera pulang, dan berencana memasak dan memakan binatang itu. Amat sangat senang atas apa yang telah didapatnya hari ini. Dia melihat ibunya, mulai dari cara membersihkan binatang itu sampai cara memasaknya. Setelah masakan itu matang, dia dan ibunya segera mencicipi masakan itu. Setiap kali merasakan daging binatang itu terlontarlah dari mulutnya kata-kata “lamak” (enak). Mendengar perkataan itu tetangganya beramai-ramai datang untuk mencicipinya sambil berkata “mintak sairih” (minta sepotong). Ternyata setiap tetangganya yang mencicipi makanan itu mengatakan “Lamak”. Lama-kelamaan kata “sairih lamak” berubah menjadi Sarilamak. Berdasarkan cerita tersebut asal nama Kenagarian Sarilamak.