Orang Hitu
Orang Hitu (atau disebut juga Suku Hitu, Warga Hitu) adalah kelompok suku yang tinggal di lima wilayah desa di sepanjang pantai utara pulau Ambon yakni Wakal, Hila, Hitulama, Mamala, dan Morella. Daerah tersebut berada di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
| Daerah dengan populasi signifikan | |
|---|---|
| Leihitu | 18.000 |
| Bahasa | |
| Bahasa Hitu | |
| Agama | |
| Islam, Kristen | |
| Etnis terkait | |
| Suku Ambon Suku Ternate | |
Sejarah
Kata Perdana adalah asal kata dari bahasa Sanskerta artinya Pertama. Empat Perdana adalah empat kelompok yang pertama datang di Tanah Hitu, pemimpin dari Empat kelompok dalam bahasa Hitu disebut Hitu Upu Hata atau Empat Perdana Tanah Hitu. Kedatangan Empat Perdana merupakan awal datangnya manusia di Tanah Hitu sebagai penduduk asli Pulau Ambon. Empat Perdana Hitu juga merupakan bagian dari penyiar Islam di Maluku. Kedatangan Empat Perdana merupakan bukti sejarah syiar Islam di Maluku yang di tulis oleh penulis sejarah pribumi tua maupun Belanda dalam berbagai versi seperti Imam Ridjali, Imam Lamhitu, Imam Kulaba, Holeman, Rumphius dan Valentijn.
Dahulu, Desa Hitu merupakan pusat perdagangan dan titik distribusi barang di Pulau Ambon. Hitu bisa dicapai lewat darat atau laut. Sejak kekerasan regional tahun 2000 dan selanjutnya, angkutan umum biasanya datang dan pergi sehari sekali dari kota Ambon. Satu-satunya catatan sejarah orang Hitu ditemukan dalam cerita mereka, tentang bagaimana mereka pada masa lalu hidup di pinggir hutan. Perkembangan selanjutnya menyebabkan mereka mulai keluar dari hutan dan membangun rumah di tepi pantai. Orang Hitu menggunakan bahasa Hitu yang terdiri dari berbagai dialek.[1]
Kepercayaan
Leihitu adalah titik masuk sejarah Islam ke Maluku. Karena alasan ini, hampir semua orang Hitu beragama Islam. Mereka percaya bahwa kelak mereka akan dinilai berdasarkan pengetahuan mereka tentang Al-Qur'an dan atas perbuatan baik mereka. Tapi seperti kebanyakan orang Muslim di Maluku, Orang Hitu sangat dipengaruhi oleh animisme yang lebih kuno.