Suku Meybrat

Suku Meybrat adalah salah satu suku lokal yang hidup di Pulau Papua, tepatnya di kepala burung Pulau Papua. Mereka berdiam diri di empat wilayah administrasi pemerintahan tingkat distrik ketika pemerintahan Hindia Belanda masih berlangsung, yaitu distrik Mare, distrik Aifat, istrik Ayamaru, dan distrik Aitinyo. Keempat distrik tersebut berada di di bawah wilayah Keresidenan Manokwari . Seiring berjalannya waktu, suku Meybrat kini mendiami tiga wilayah kecamatan yang masuk ke dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Sorong, yaitu, Kecamatan Ayamaru, Kecamatan Aifat, Kecamatan Aitinyo, dan sebagian lainnya tinggal di Kecamatan Sausapor. Meskipun demikian, sebagian kecil Suku Meybrat juga masih ada yang mendiami wilayah Kabupaten Manokwari, tepatnya di Kecamatan Kebar.[1]

Gambaran umum

Menurut sumber literasi kebahasaan, kata “Suku Maybrat” berasal dari dua kata, yaitu “May” yang artinya “Bahasa” dan “Brat” yang artinya “ Sebelah timur”. Dengan demikian, Meybrat berarti Bahasa yang muncul dari lubang hidup.[2] Dalam perkembangannya, manusia dari Suku Meybrat disebut sebagai manusia yang muncul atau lahir dari pusat kehidupan bumi Meybrat. Sementara Koentjaraningrat dan Sanggenafa berpendapat bahwa “Meybrat” terdiri dari kata Maibrat yang dikelompokan menjadi “Mai” yang berarti “Bahasa” dan “Brat” yang berarti diambil dari sebuah nama bukit di sebelah selatan danau Ayamaru.[1] Seorang antropolog dari Swedia bernama J.E. Elmberg pernah berkunjung ke daerah danau Ayamaru pada tahun 1953 dan mengatakan bahwa populasi suku Meybrat kala itu masih berkisar 900 jiwa. Dalam perkembangannya, kini jumlah penduduk Suku Meybrat telah mencapai kurang lebih 35.000 jiwa.

Suku Meybrat mayoritas adalah penganut agama Nasrani, yaitu agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Mereka kebanyakan bermukim di sepanjang jalan-jalan utama antardesa yang menuju ke kota kecamatan. Sementara itu, dalam hal pendidikan, generasi muda Suku Meybrat juga banyak menempuh pendidikan baik di wilayah Papua seperti Jayapura, Manokwari, dan Sorong, maupun ke luar daerah seperti Jawa, Sulawesi, dan Sumatra. Meskipun perkembangan sosial yang mereka alami tersebut juga dialami oleh beberapa suku lokal lain di Papua, Suku Meybrat tetap memiliki perbedaan, terutama dalam hal tampilan kebudayaan maupun ritus adat istiadat. Perbedaan itu dicerminkan dalam pengujaran bahasa-bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan suku-suku lain dalam kesehariannya. Suku Meybrat menggunakan Bahasa Meybrat dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tersebut menjadi bahasa utama, bukan hanya dalam aktivitas keseharian, melainkan juga penyelenggaraan upacara adat dan ritual keagamaan tertentu.[3]

Masyarakat Suku Meybrat juga kerap mengadakan pertunjukan gelar budaya untuk mempererat hubungan sosial di antara masyarakat Meybrat. Gelar budaya tersebut diwujudkan dalam pertukaran kain timur atau inisiasi, yakni sebagai perwujudan semangat solidaritas dalam rangka mempertahankan kontak dan relasi sosial antar mereka.[3]

Flora dan fauna khas juga terdepat di wilayah tempat tinggal suku Meybrat. Beberapa jenis flora khas di sana di antaranya adalah anggrek terang bulan dan anggrek rajawali, bunga selasih, pakis, dan tumbuhan lain juga ditemukan tumbuh liar di wilayah Meybrat. Sementara fauna khas di antaranya adalah kuskus, kasuari, babi duri, Babi Hutan, burung Cenderawasih, mambruk, nuri, dan lain-lain.[4]

Geografis

Kondisi geografis di tempat tinggal Suku Meybrat mengikuti pola iklim di Kabupaten Sorong yang memiliki iklim tropis basah. Kawasan itu terletak pada garis khatulistiwa dengan diapit oleh dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Sedangkan suhu rata-rata di sana dalam 13 tahun terakhir ini mencapai suhu tertinggi sebesar 33,2 derajat celcius dan terendah mencapai 27,5 derajat celcius dengan tingkat kelembaban udara rata-rata mencapai 80,5% pertahun. Samahalnya dengan daerah-daerah lain yang berada di sepanjang garis khatulistiwa, keadaan Curah hujan di tempat tinggal Suku Meybrat cukup tinggi, yaitu mencapai 1,996 mm hingga 4.055 mm.[5]

Selain itu, tempat tinggal Suku Meybrat secara geografis juga diapit oleh beberapa sungai, seperti Sungai Kamundan, Sungai Aimau, dan Sungai Kais di Kecamatan Aifat serta Sungai Aikiri yang berada di Kecamatan Aitinyo. Seluruh sungai tersebut berada di wilayah Kabupaten Sorong yang oleh pemerintah setempat telah dikelola dengan sangat baik untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian. Hal itu menunjukan bahwa sungai-sungai tersebut merupakan salah satu potensi sumber daya alam di wilayah Suku Meybrat karena debit air yang cukup besar. Selain sungai, Suku Meybrat juga diberkahi dengan keberadaan danau Ayamaru dan Danau Uter yang sampai sekarang sedang dikembangkan menjadi objek wisata karena daya tarik yang dimilikinya. Pengembangan ekowisata itu diharapkan dapat meningkatkan pendapatan atau devisa daerah.[5]

Dalam hal tipografi, wilayah Meybrat sangat bervariasi; ada yang terdiri dari dataran rendah, perbukitan, lereng-lereng, pegunungan, dan puncak gunung. Bahkan, di sebagian wilayah utara Suku Meybrat terdapat puncak gunung setinggi 3.000 m di atas permukaan air laut, yaitu puncak Tamarauw yang berada di Desa Fef, Kecamatan Sausapor sementara di bagian timur terdapat gunung Faumair yang terletak di Kecamatan Aifat. Selain itu, di bagian selatan wilayah Suku Meybrat juga terdapat hamparan rawa-rawa yang memantulkan pesona alam yang indah. Sementara untuk jenis tanah di wilayah Meybrat sangat variatif, ada jenis tanah organosol, aluvial, latosol, podsolik merah kuning, dan podsolik coklat kelabu.[5]

Karakteristik tanah tersebut menjadikan wilayah Suku Meybrat menjadi lahan yang memiliki kesuburan baik sehingga sangat potensial untuk ditanami berbagai jenis tanaman dan perkebunan, baik jenis tanaman yang tumbuh dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Kepercayaan tentang Yefun

Konsep Tuhan atau Allah dalam suku Meybrat dikenal dengan Yefun. Kata Yefun merupakan konsep yang digali dari pemahaman masyarakat yang diturunkan dari kata, yaitu “ye” yang berarti memberi, mencipta, dan menjadikan; “fun” yang berari mengikat, tali pusat, dan inti kehidupan. Sehingga, suku Meybrat menyebut Yefun sebagai sesuatu yang sangat digantungkan dan diharapkan. Mereka mengikatkan tali pusarnya pada sang pencipta, yaitu Yefun. Dalam bahasa lain, Yefun adalah kepercayaan asli suku Meybrat sebelum mereka diperkenalkan paham Kristiani.[6]

Dalam memahami misteri kehidupan, suku Meybrat dapat memahaminya melalui proses ritual yang disebut wuon (upacara inisiasi untuk kaum pria) dan fnyia mrokh (upacara inisasi untuk kaum perempuan). Mereka yang mengalami proses wuon itulah yang akan menyelami dan memahami misteri kehidupan, baik yang natural maupun yang magis. Namun, perkembangan masyarakat Meybret sering ceroboh, sehingga untuk mengejawantahkan rahasia Allah yang disimbolisasikan dalam upacara wuon itu agar manusia dapat mempercayai kehadiran Allah dalam sebuah upacara ritual.[6]

Suku Meybrat mempercayai pencipataan Alam semesta beserta segala isinya itu tercermin dalam mitos Siwa dan Mafif. Sifa dan Mafif adalah sepasang saudara yang mengadakan seluruh ciptaan dan mereka tidak disamakan dengan wujud manusia atau juga roh-roh lainnya. Mitos tersebut menghadirkan kudus, berdaya memiliki sifat keabadian lewat mitos-mitos yang hidup dalam masyarakat lisan tersebut.[6]

Kepercayaan tentang Taguo dan wian

“Takuo” dan “wian” adalah roh-roh. Menurut Suku Meybrat, Takuo adalah roh yang berasal dari nenek moyang yang telah meninggal. Apabila nenek moyang dan kerabatnya meninggal dunia, maka roh-rohnya dapat bersemayam dalam gunung-gunung, pohon-pohon, dan goa-goa atau tempat keramat lainnya. Mereka juga percaya, bahwa roh nenek moyang mereka dapat menjelma menjadi burung krok, sejenis burung kafuk, dan juga sisaom (burung pembawa kabar berita). Di antara jelmaan nenek moyang tersebut, ada yang sifatnya melindungi alam dan manusia, ada pula yang mengganggu atau merusak jika tidak dijaga tatanan yang ada secara seimbang, baik tatanan sosial, alam, fisik, maupun tatanan manusia dengan alam magis.[7]

Takuo dianggap sebagai sosok maskulin yang dianggap memberkahi kehidupan manusia. Ia diyakini oleh Suku Meybrat berperan dalam wujud air, senantiasa dihormati pemilik sekaligus pelindung utama atas tanah yang ada. Kain adat yang menjadi pusaka bagi orang Meybrat diyakini dibuat oleh Takuo. Sosok Takuo selalu Tampak dalam mimpi dan berbentuk seperti sosok manusia. Tetapi di dalam dunia nyata, dia sering kali menampakkan dirinya sebagai jenis ular yang mematikan, yaitu aban beneiff. Dia menasihati bagaimana agar menjadi orang kaya sehingga Suku Meybrat senanntiasa kembali menuangkan segelas minuman di atas tanah agar memberi kesempatan bagi Takou untuk dapat mencicipinya.[8]

Sementara Wian tidak lain dianggap sebagai roh dari Takou itu sendiri. Jadi, Takou dipahami sebagai sosok manusia, maka wian sebagai daya atau roh yang senantiasa menyertai dan melakukan segala sesuatu bersama Takou. Dalam pesta-pesta syukuran atau penyegaran, Suku Meybret akan selalu mengawalinya dengan doa permohonan kepada Takou-takou yang ada di tempat itu untuk melindungi seisi kebun mereka.[8]

Kehamilan dan Kelahiran

Pada masa kehamilan, seorang perempuan suku Meybrat diharuskan melakukan beberapa ritus. Ritus-ritus tersebut dapat dihubungkan dengan sifat dan tujuan tidak langsung dari sang bayi yang akan lahir. Pada masa kehamilan, seorang perempuan dilarang berhubungan sex dengan suami. Seorang ibu hamil akan tidur jauh dari suami, begitu pun sang suami, akan tidur berjauhan dengan sang istri. Hal itu berlangsung hingga anak berusia kira-kira satu atau satu setengah tahun. Hal itu mereka percaya sebab berhubungan sex ketika hamil menurut Suku Meybret akan menyebabkan bayi yang lahir terikat plasenta, bahkan plasenta tersebut dapat menutup hidung bayi. Selain itu, berhubungan sex ketika sedang mengandung diyakini akan menyebabkan lahirnya bayi kembar; sementara apabila ada bayi kembar, salah satu bayi tersebut harus dibunuh. Terutama bayi yang terlihat lebih lemah, oleh orang tuanya harus dibunuh dan dibuang. Suku Meybret amat meyakini bahwa bayi kembar merupakan perwujudan dari anak setan dan binatang. Bahkan, bayi kembar juga diidentikan dengan perselingkuhan antara istri dengan lelaki lain.[9]

Pada saat masa kehamilan berlangsung, seorang ibu tidak diperbolehkan makan tikus tanah. Menurut kepercayaan mereka, tikus tanah akan menyebabkan bayi berbibir lesung. Ibu hamil juga dilarang makan buah raja karena dipercaya akan mengundang kesengsaraan dalam hidup keluarganya. Ketika seorang ibu hamil meninggal dunia, suku Meybret tidak diperbolehkan menyebutnya “mati bersama bayinya karena sengsara ketika melahirkan”. Mereka harus menyebutnya dengan makna kiasan “si perempuan pisang rubuh bersama buahnya”.[9]

Pada saat melahirkan, seorang perempuan Meybret diharuskan melahirkan di pihak suami. Ketika perempuan Meybret mengalami kesakitan yang teramat lama, mereka diminta untuk mengakui hal-hal yang pernah dilakukannya di masa silam. Hal-hal tersebut di antaranya adalah apakah pernah melakukan hubungan sex sebelum menikah. Jika iya, maka diminta untuk menyebutkan namanya dan jumlahnya. Jika tidak, maka akan menjepit “jalan keluarnya” sang bayi. Perempuan Meybret akan berusaha sekuat tenaga untuk mengakui segala “kesalahannya”. Begitu pun ibu dukun, akan membacakan beberapa mantar pada air atau dedaunan lalu diberikan kepada perempuan Meybret agar dapat membuka jalan bagi lahirnya sang bayi.[9]

Jika tidak, maka perempuan suku Meybrat akan mengatakan tidak. Ia akan menangis dan terkadang berteriak memaki suaminya karena suami dianggap sebagai sumber penderitaannya kala itu. Ketika perempuan Meybrat melahirkan tetapi tidak didampingi suami, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Ketika tali plasenta sudah mulai keluar, maka ibu-ibu dukun akan berteriak secara spontan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran bayi tersebut.[9]

Setelah bayi lahir, mereka akan dibersihkan dengan kulit bamboo (migies). Setelah itu, sang bayi dibersihkan dengan dedaunan. Ibunya tidur agak terpisah dari bayinya hingga sore hari. Ketika sang bayi menangis, sang ibu hanya boleh mendekatinya tanpa diberi susu hingga sore hari atau malah keesokan paginya. Sementara itu, ibu-ibu yang lain akan mencari daun yang akan digunakan untuk ibu mandi uap selama satu hingga dua minggu. Para suami segera mengerjakan rumah untuk ibu beserta bayi yang ditutupinya rapat dengan dedaunan. Rumah tersebut disebut sebagai amah kree (rumah tertutup untuk ibu bersalin). Rumah itu dibuarkan dua tungku api; tungku pertama disebut sebagai tungku besar untuk dijadikan dapur untuk memasak makanan bagi sang ibu, sedangkan tungku satunya lagi digunakan untuk perawatan ibu, mandi uap, dan sebagainya. Selama di dalam rumah tersebut, ibu akan ditolong oleh ibu-ibu lain atau anak-anak gadis suku Meybrat.[9]

Migrasi Penduduk

Sebelum suku Meybrat membuka komunikasi dengan suku di wilayah lain yang lebih luas, mereka cenderung memandang dunia dalam perspektif yang sempit. Mereka memandang negeri terjauh dari tempat tinggal mereka adalah di bagian utara yaitu wi menif (bagia kaki gunung di sekitar Sausapor); di bagian timur yaitu Aifat timur yang dijulukinya sebagai asmaun (negeri matahari terbit), dan Fayuakh yaitu Klabra di bagian barat serta Ayamaru yang dijulukinya sebagai Maru (air danau).[9]

Seiring berkembangnya waktu, telah banyak suku-suku lain, selain suku Meybrat, yang berpindah ke tempat yang lebih jauh. Salah satunya adalah suku Bless yang menurut mitos dahulu kala berasal dari Sabes (di daerah Mare) yang juga ratusan tahun yang lalu bermigrasi ke Ayamaru, Teminabuan, dan ke Madik sehingga membentuk klen-klen Bless di sana: Blessia, Blesskadit, Chrum Bless, dan sebagainya. Di bagian selatan, di Inanwatan juga berdasarkan mitos bahwa asal usul orang Aifat, khususnya yang menyebar di sekitar kali Kamundan yang bermigrasi dari daerah Inanwatan.[4]

Perubahan tempat tinggal yang dialami suku-suku lain secara tidak langsung berpengaruh pada bagaimana suku Meybrat berpikir untuk mencari daerah lain yang lebih luas sebagai tempat tinggal. Banyak pemuda pedalaman yang kemudian bepergian ke negeri yang jauh untuk bekerja di perusahaan NNGPM (Nederlands Nieuw Guinea Petroleum Maschaapaij) di Klamono, Sorong dan Jayapura pada tahun 1957–1958.[4] Sekembalinya dari perantauan, mereka menceritakan kepada penduduk desanya bahwa di belahan bumi yang lain ternyata ada laut, pulau, ikan, air asin, dan sebagainya.

Sebelumnya, suku Meybrat memang sudah banyak yang pergi keluar daerah untuk menjadi budak belian para pedagang dari Makassar, Maluku, dan Jawa. Peristiwa itu banyak terjadi pada abad ke-15 dan abad ke-16. Namun demikian, suku Meybrat tersebut tidak ada yang kembali lagi ke tempat tinggal asalnya. Setelahnya, mereka banyak mengenal “dunia lain” melalui kedatangan orang-orang asing terutama orang Barat yang singgah ke wilayah tempat tinggal mereka. Saat ini, jumlah penduduk Meybrat yang merantau ke kota-kota lain di Papua atau bahkan di luar Papua dapat dikatakan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk yang menetap di daerah asalnya (pedalaman). Persebaran mereka sebagian besar adalah di kota-kota seperti Sorong, Manokwari, Fak-Fak, dan Jayapura. Mereka hidup di kota sebagai petani, pekerja kasar, dan sebagainya, sementara hanya sedikit yang kemudian bekerja di sektor formal.[4]

Kesenian Khas

Beberapa ragam kesenian khas Meybrat adalah Srar atau bosuah, yaitu ragam berdansa dengan irama lagu yang diangkat oleh salah seorang lalu diikuti oleh yang lainnya. Dansa sebagai jenis kesenian yang dilakukan dalam acara-acara sacral maupun profane. Lebih banyak pada acara-acara profane. Dansa dilakukan dengan bergandengan tangan, berselang-seling antara tua dan muda serta para muda-mudi. Acara dansa sering kali menjadi media hiburan tetapi banyak pula sebagai event untuk mencari pasangan hidup.[4]

Cara memperoleh jodoh dalam budaya khas Meybrat pada umumnya diperoleh dengan “cara kebetulan”. Mereka memperoleh jodoh bisa lewat dansa, upacara adat, syukuran, perkawinan, atau upacara syukur atas arwah kerabat yang meninggal dunia. Kesempatan-kesempatan seperti dimanfaatkan oleh suku Meybrat untuk mencari jodoh.[4]

Selain srar, suku meybrat juga mengenal satu ragam kesenian yang bernama siwuon atau dalam Bahasa Klabra disebut dengan slawu. Ragam kesennian siwuon dilakukan dengan formasi melingkar namun gerak langkah para penari agak lambat apabila srar yang kadang dilakukan dengan cepat sehingga sangat menguras energy.[4]

Kesenian lain yang populer di kalangan suku Meybrat adalah minggauw. Minggauw adalah pantun yang dinyanyikan hanya satu orang pria dan kadangkala perempuan dengan bahasa kiasan yang isinya mengungkapkan cinta, perasaan kasih sayang, kagum, dan rasa syukur. Menurut mitos yang berkembang, suara yang adalam pantun tersebut terinspirasi oleh suara jangkrik di tepi sungai, suara burung yik (merpati hutan), dan sebagainya.[4]

Selang beberapa tahun, pada tahun 1960-an, suku Meybrat kemudian diperkenalkan dengan ragam Seni kontemporer yang disebut dengan Yosim dan pancar. Yosim pancar tersebut sangat digemari oleh pemuda suku Meybrat karena saling bergandengan tangan dan terkadang saling menyenggolkan badan antara remaja putra dan remaja putri. Yosim pancar juga dapat menjadi media untuk mengungkapkan perasaan cinta, dan kasih sayang kepada seseorang dalam pantun yang berisi Bahasa-bahasa kiasan dengan irama yang digayakan oleh para pengangkat lagu. Lagu tersebut terkadang juga dinyanyikan dengan cepat, sambil berpindah-pindah namun akan kembali menemui posisi semula secara cepat pula.[4]

Selain itu, suku Meybrat juga sangat populer dengan kesenian bernama sker yo hra (lagu tengkorak) yang dinyanyikan hanya pada saat berlangsung upacara magis. Dalam menyanyikan lagu itu, para pedansa menghiasai kepalanya dengan tengkorak orang yang telah meninggal.[4]

Referensi

  1. Koentjaraningrat, dkk. 1993. Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk. Jakarta: Penerbit Djembatan
  2. Yesfel. 1992. Number Data Manusia Irian sebagai Wahana Pembaharuan, Kumpulan Makalah, dilihat di http://lib.ugm.ac.id
  3. Boelaars, Jan. 1992. Manusia Irian: Dahulu, Sekarang, dan Masa Depan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
  4. Bless, Samuel. 2002. Perubahan Sosial Suku Meybrat, di Kepala Burung, Papua (1937–1962). Tesis Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Lihat melalui http://lib.ugm.ac.id
  5. "BPS Kabupaten Maybrat". maybratkab.bps.go.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-10-27. Diakses tanggal 2017-10-27.
  6. Merauke, Keuskupan Agung. 1999. Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan. Merauke: Keuskupan Agung
  7. Anonymous. 1996. Masyarakat Amungme 9irian Jaya): Modernisasi Agama Resmi, Sebuah Model Perteman. (dalam Stepanus Juweng, dkk) "Kisah dari Kampung Halaman". Yogyakarta: Seri Dian IV
  8. Elemberg, John Erik. "Notes on the Meibrat People of Ajamaroe District, Ethnos Vol 20. No. 1 pp. 27-28
  9. Bless, Samuel A. 2000. Cerita Rakyat Suku Meybrat, Tanah Papua. Yogyakarta-Semarang: Unit Kajian Papua-Yayasan BINTERBUSIH-Pustaka Pelajar
This article is issued from Wikipedia. The text is licensed under Creative Commons - Attribution - Sharealike. Additional terms may apply for the media files.