Zakaria bin Muhammad Amin
H. Zakaria bin Muhammad Amin (bahasa Arab: زكريا بن محمد أمين 2 Maret 1913 – 1 Januari 2006 )[1] adalah seorang ulama, politikus, dan penulis berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan orang pertama yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan Bidang Agama Islam di Kota Bengkalis.[1]
| Zakaria bin Muhammad Amin | |
|---|---|
![]() | |
| Lahir | Zakaria 2 Maret 1913 Bangkinang, Hindia Belanda |
| Meninggal | 1 Januari 2006 (umur 92) Bengkalis, Riau, Indonesia |
| Sebab meninggal | Diabetes melitus |
| Tempat pemakaman | Taman Makam Islam Harapan |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pekerjaan |
|
| Suami/istri | Mariah binti Ahmad
(m. 1933; wafat 1955)Siti Zainab (m. 1956–2006) |
| Anak | 14, termasuk Gamal Abdul Nasir Zakaria |
| Kerabat | Tuan Guru Haji Ahmad (mertua) |
Biografi
Zakaria bin Muhammad Amin dilahirkan pada tanggal 2 Maret 1913 di Bangkinang, ibukota dari Kabupaten Kampar, Hindia Belanda, sebagai putra sulung dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Amin dan Taraima (1895–1933).[1] Ayahnya merupakan seorang pedagang kain, sedangkan ibunya merupakan seorang penjahit, keduanya berasal dari Kuok.[1]
Zakaria memiliki dua orang saudara kandung yang bernama Hasyim bin Muhammad Amin, dan Ahmad bin Muhammad Amin.[1]
Ia juga memiliki tiga orang saudara tiri yang bernama Siti Mariam binti Muhammad Amin, Syarafiah Norwawi binti Muhammad Amin, dan Ahmad Sanusi bin Muhammad Amin (meninggal 17 Juli 2022).[1]
Ia menghabiskan masa kecilnya dengan bermain dan menggembalakan kerbau ternak milik keluarganya di pematang sawah serta belajar ilmu dibidang keagamaan Islam hingga siang hari.[1]
Zakaria bersekolah di Tweede Inlandsche School milik pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1920, namun dikarenakan dirinya yang kurang berminat dalam mempelajari ilmu dibidang non keagamaan, dirinya memutuskan untuk berhenti bersekolah setelah naik ke kelas tiga.[1]
Pada tahun 1923, Zakaria berangkat ke Mekkah bersama paman dan bibinya dalam rangka untuk melaksanakan Ibadah Haji sekaligus membawa Zakaria untuk belajar ilmu keagamaan di Mekkah.[1] Lalu sesampainya disana mereka berkenalan dengan para jamaah haji yang berasal dari berbagai negara.[1]
Zakaria kemudian menetap di Mekah untuk belajar ilmu agama kepada para ulama yang terkenal disana seperti Ali Al-Maliki, Syekh Umar Al Turki, Umar Hamdan, Ahmad Fathoni, dan Syekh Muhammad Amin Quthbi. Dari Syekh Muhammad Amin Quthbi inilah Zakaria bisa menjadi salah satu murid dari Muhammad Saleh Al-Minankabawi.[1]
Bersama dengan para jamaah lainnya, Zakaria kemudian membentuk sebuah komunitas studi di bidang agama islam yang dikenal dengan sebutan Halaqoh, dalam komunitas inilah Zakaria kemudian mempelajari ilmu di bidang keagamaan Islam diantaranya ilmu Al-Qur'an, ilmu Tafsir, ilmu Hadits beserta mustholahnya, ilmu Tauhid, Balaghah, dan ilmu tentang syair Arab yaitu Qonafi.[1]
Setelah melaksanakan ibadah haji di Mekah, Zakaria kemudian pindah ke daerah Temerloh, Pahang. Disana ia melanjutkan pendidikan dibidang keagamaan dengan menjadi murid dari Muhammad Saleh Al-Minankabawi.[1] Sanad keilmuan Zakaria menyambung kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang merupakan seorang penganut mazhab Syafi'i di Masjidil Haram,[1] dan juga merupakan guru dari para pemimpin reformis Islam Indonesia seperti Muhammad Hasyim Asy'ari yang merupakan pendiri dari Nahdlatul Ulama, dan KH Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri dari Muhammadiyah.[1]
Zakaria juga berhasil mempelajari Matan Jurumiyah secara lengkap selama menempuh masa pendidikannya tersebut.[1]
Setelah kematian gurunya yaitu Muhammad Saleh Al-Minankabawi pada tahun 1933, Zakaria kemudian pindah ke daerah Kuala Lipis. Setelah daerah tersebut mengalami bencana banjir, dirinya bersama beberapa orang temannya kemudian memutuskan untuk pindah ke Kota Bengkalis.[1]
Sesampainya di Bengkalis, Zakaria kemudian melanjutkan pendidikan keagamaannya di Masjid Raya Parit Bangkong dengan menjadi murid dari Tuan Guru Haji Ahmad (1884–1949).[1] Lalu dirinya bersama dengan empat orang temannya terpilih untuk menjadi pengajar di Masjid tersebut selama 16 tahun, dirinya juga ikut mendirikan sebuah pesantren yang diberi nama Al-Khairiyah pada tahun 1937.[1]
Zakaria juga menulis sebuah buku berjudul Balqurramhi fi Sunniyyati Qunut Subhi, yang berisi penyelesaian masalah tentang penggunaan doa qunut di waktu sholat Subuh.[1] Dirinya juga menulis dalam majalah At-Tabib tentang masalah usholli dalam sholat, dan juga menulis dalam majalah Hidah Benar tentang rakaat sholat sunnah tarawih.[1]
Pada tahun 1939, dirinya merilis sebuah buku yang berjudul Kumpulan Khutbah Jumat dan Hari Raya Sebanyak Dua Belas Judul Khutbah.[1]
Setelah pernikahannya dengan Mariah binti Ahmad, Zakaria kemudian melakukan perjalanan ke wilayah Bagan Datuk guna memperdalami ilmu keagamaannya dan berdakwah di daerah tersebut hingga tahun 1937.[1]
Setelah kembali dari Bagan Datuk, Zakaria kemudian kembali mengajar di Pesantren Al-Khairiyah dengan menggunakan sistem klasikal hingga tahun 1943.[1]
Kemudian Zakaria juga ikut memimpin suatu pergerakan dengan pangkat Mayor Tituler pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948.[1]
Pada tahun 1949, Zakaria menjadi orang pertama yang dilantik sebagai Kepala Pemerintahan di Bidang Agama Islam oleh Bupati Bengkalis yaitu Haji Muhammad.[1]
Kemudian pada tahun 1950, dirinya juga dilantik sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bengkalis hingga tahun 1972.[1]
Zakaria juga menjabat sebagai anggota Partai Masyumi hingga partai tersebut dibubarkan oleh orde lama pada tanggal 15 Agustus 1960.[1]
Pada tanggal 17 Juli 1963, Zakaria mendirikan sebuah sekolah agama bernama MDTA Mahbatul Ulum yang berada di Jalan Gerilya, Kelapapati Darat.[1]
Sekolah tersebut memiliki fasilitas sebanyak tujuh buah ruangan kelas dan menyediakan tiga tingkat jenjang pendidikan yaitu Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.[1] Bersama dengan putrinya yaitu Rita Puspa Zakaria dan teman-temannya yaitu Ali Buyung, Amri Almi, Abdul Hamid Asy'ari, Suhailis, Sulaiman, Ahmadi, Harani, dan Abdul Jalil Abbas. Zakaria aktif mengajar berbagai macam ilmu keagamaan disana seperti Ilmu pidato, praktik doa dan wirid, tilawah Al-Quran, dan ilmu Hadits.[1]
Pada tahun 1977, Bupati Bengkalis yaitu Himron Saheman memberikan dana bantuan sebesar Rp 350.000 untuk renovasi lantai sekolah tersebut.[1] Kemudian pada tahun 1986, Pemerintah Daerah Tingkat I Riau memberikan dana bantuan sebesar Rp 9.600.000 untuk biaya renovasi dinding kelas yang mengalami kerusakan berat.[1]
Pada tahun 1989, MDTA Mahbatul Ulum menerima bantuan renovasi empat dinding kelas dari program Abri Masu Desa (AMD).[1] Kemudian pada tahun 1991, Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bengkalis melalui Proyek Bantuan Dana Sarana Pendidikan Pendapatan Asli Daerah (PAD), memberikan bantuan renovasi empat kelas dan musholla MDTA Mahbatul Ulum.[1]
Kemudian melalui musyawarah pada tahun yang sama, Zakaria berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 500.000 untuk membayar honor guru tetap di sekolah tersebut sebanyak sembilan orang.[1]
Zakaria juga aktif mengajar di berbagai masjid yang berada di Kabupaten Bengkalis seperti di Masjid Raya Parit Bangkong, Masjid Jami' Kelapapati, Mushola Raudhatul Jannah, Musala Kayu Manis, dll.[1]
Pada tahun 1964, Zakaria dilantik sebagai juri tetap Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) di Kabupaten Bengkalis.[1] Kemudian pada tahun yang sama, dirinya juga dilantik sebagai pengajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) YPPI di Bengkalis hingga tahun 1970.[1]
Pada tahun 1974, Zakaria dilantik sebagai Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Pengurus Cabang Nadhlatul Ulama Kabupaten Bengkalis hingga tahun 1986.[1]
Zakaria bin Muhammad Amin meninggal dunia di kediamannya yang berada di Desa Kelapapati, Bengkalis, pada tanggal 1 Januari 2006.[1] Ia meninggal akibat penyakit diabetes mellitus yang dideritanya di dalam usia 92 tahun.[1]
Kehidupan pribadi
Zakaria menikah untuk yang pertama kalinya pada tahun 1933 dengan Mariah binti Ahmad (ca. 1 Februari 1900 – ca. 25 Desember 1955),[2] yang merupakan putri dari gurunya yaitu Tuan Guru Haji Ahmad (1885–1949) dengan istrinya Rohimah. Pernikahan mereka berakhir dengan kematian Mariah pada tanggal 25 Desember 1955. Dari pernikahannya ini mereka dikaruniai 7 orang anak yaitu:
- Nashruddin Zakaria, lahir pada 10 April 1934 di Malaya Britania. Meninggal di RSUD Bengkalis, Riau, pada 1 Januari 1999.[1][3] Menikah dengan Nursiah binti Muhammad Yasin (31 Desember 1942 – 27 Juli 2020),[4] dan memiliki empat orang anak yaitu:[3]
- Syamsidar, lahir pada ca. 1962 di Bengkalis, Riau. Meninggal di RSUD Bengkalis, Riau, pada 16 Agustus 2021.[5]
- Erma Ernawati, meninggal di RSUD Bengkalis, Riau, pada 9 April 2010.[6]
- Yusraini
- Hendrizon
- Aminah Zakaria, lahir di Bengkalis, Riau, pada 17 September 1938. Meninggal di RSUD Bengkalis, Riau, pada 15 Juli 2011.[1][7] Menikah dengan Rustam (meninggal 1993),[8] dan memiliki dua orang putra yaitu:[7]
- Aprizami, lahir pada ca. 1969 di Bengkalis, Riau. Meninggal di Pekanbaru, Riau, pada 1988.[9]
- Rudi Haryanto, lahir pada 6 Oktober 1972 di Bengkalis, Riau. Meninggal di Gang AMD, Bengkalis, pada 14 April 2016.[10]
- Zaharah Zakaria, lahir pada 1 Februari 1942 di Bengkalis, Riau. Meninggal di Jalan Antara, Bengkalis, pada 29 Oktober 2007.[1][11] Menikah dengan Muhammad Yaqub (ca. 1930 – 11 April 1996),[12] dan memiliki empat orang anak yaitu:[11]
- Sri Mei Linda Andika
- Sri Afrianti
- Wisra Okarianto
- Wiwik Siti Aisyah
- Ulfah Zakaria,[1] menikah dengan Diponegoro Dilapanga (meninggal 26 September 2011),[13] dan memiliki tiga orang anak yaitu:
- Sutianingsih
- Yusuf Aqil
- Siti Mariam
- Azra'ie Zakaria, lahir pada 31 Juli 1947 di RSUD Bengkalis, Riau. Meninggal di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa, Jakarta Timur, pada 18 Juli 2019.[1][14] Menikah dengan Athiah Muhayat pada 1 Desember 1983, dan memiliki tiga orang anak yaitu:[14]
- Maya Fadlilah Azra'ie
- Ilham Zurriyati Azra'ie
- Adri Imaduddin Azra'ie
- Hanim Zakaria,[1] menikah dengan Mochtar, dan memiliki dua orang putri yaitu:
- Tirta Mahdalena Mochtar
- Desy Ananda
- Syakrani Zakaria,[1] menikah dengan Rosnetti, dan memiliki empat orang anak yaitu:
- Yudhi Andross
- Elfikrie Andross
- Trio Andross
- Putri Rossya Ardelia Hasanah
Zakaria menikah untuk yang kedua kalinya dengan Siti Zainab (31 Desember 1935 – 21 Agustus 2014) pada tahun 1956.[1] Pernikahan mereka berakhir dengan kematian Zakaria pada tanggal 1 Januari 2006, dari pernikahan keduanya ini mereka dikaruniai tujuh orang anak yaitu:
- Zulkarnain Zakaria, menikah dengan Mistiatiningsih, dan memiliki tiga orang anak yaitu:
- Muthia Vaora
- Muhammad Zaqi
- Agil Nabila
- Nukman Zakaria, menikah dengan Yuslina binti Zakaria (12 Oktober 1965 – 14 Maret 2021),[15] dan memiliki seorang putri yaitu:
- Nurul Fitri Hidayah
- Rinie Yuslina Fairuz Zakaria, lahir pada 25 Juli 1964 di RSUD Bengkalis, Riau, Indonesia. Meninggal di Pusat Pengobatan Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 14 Maret 2021.[1][16] Menikah dengan Anton Budi Hartono Nasution pada 25 Juni 1990, dan memiliki lima orang anak yaitu:[16]
- Latief Agam Hartono, lahir pada 27 September 1997 di Kecamatan Deli Tua, Sumatera Utara, Indonesia. Meninggal di Rumah Sakit PGI Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, pada 1 November 1998.[17]
- Lizzy Paoly Hartono
- Melissa Alisya Hartono, lahir pada 24 Februari 2002 di RS Bhayangkara, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan.[18]
- Susi Kartika Hartono
- Linda Claudia Hartono, lahir pada 6 Maret 2012 di Rumah Sakit Husada, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Meninggal di Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin, Kecamatan Sukajadi, Bandung, pada 24 Oktober 2022.[19]
- Gamal Abdul Nasir Zakaria, menikah dengan Salwa Dato Seri Setia Mahalle, dan memiliki empat orang anak yaitu:
- Wafa Imani
- Fawwaz Khalili
- Aisyah Syamila
- Umar Khalili
- Rita Puspa Zakaria, menikah dengan Muhammad Yahman pada 28 Januari 2003, dan memiliki tiga orang anak yaitu:
- Erin Kartika Puspa
- Muhammad Asyrof Al-Ghifari
- Assyifa Kaila Saidah
- Nida Suryani Zakaria, lahir pada 15 April 1971 di Jalan Gerilya, Bengkalis.[20] Menikah dengan Khaidir Ahmad (lahir 25 November 1968) pada tanggal 14 Desember 2016.[20]
- Sri Purnama Zakaria, menikah dengan Amrizal pada tahun 2008, dan memiliki dua orang anak yaitu:
- Amira Insyirah
- Ammar Baihaqi
Pandangan politik
Zakaria menganut paham ideologi Konservatisme, dirinya juga menganut pemahaman dari organisasi Nadhlatul Ulama yaitu "Ahlus Sunah wal Jamaah".[1] Zakaria merupakan pendukung dari orde baru.[1]
Bibliografi
| Tahun | Judul | Jenis | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1930 | Balqurramhi fi Sunniyyati Qunut Subhi | ||
| 1939 | Kumpulan Khutbah Jumat dan Hari Raya Sebanyak Dua Belas Judul Khutbah | ||
Referensi
- Fariq, Wan M (2020-10-15). PROFIL ULAMA KARISMATIK DI KABUPATEN BENGKALIS: MENELADANI SOSOK DAN PERJUANGAN. Bengkalis: DOTPLUS Publisher. hlm. 143–158. ISBN 9786239465933.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Mariah binti Ahmad". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-09-07.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Nashruddin Zakaria". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Nursiah binti Muhammad Yasin". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Syamsidar". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-09-11). "Erma Ernawati". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Aminah Zakaria". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Rustam". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Aprizami". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Rudi Haryanto". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Zaharah Zakaria". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-14). "Muhammad Yaqub". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-26). "Diponegoro Dilapanga". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-08-27). "Azra'ie Zakaria". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-06.
- Hartono, Melissa (2022-09-11). "Yuslina binti Zakaria". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-09.
- Hartono, Melissa Alisya (2022-05-27). "Hj. Rinie Yuslina Fairuz, B.P.H." Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-24.
- Hartono, Melissa Alisya (2022-09-06). "Latief Agam Hartono". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-24.
- Hartono, Melissa Alisya (2022-02-26). "Hj. Melissa Alisya Hartono, L.L.B." Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-24.
- Hartono, Melissa Alisya (2022-09-06). "Linda Claudia Hartono". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-24.
- Hartono, Melissa (2022-09-11). "Nida Suryani Zakaria". Geni (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-09.
