Amsal 13

Amsal 13 (disingkat Ams 13) adalah bagian dari Kitab Amsal dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen.[1][2]

Amsal 13
Kitab Amsal lengkap pada Kodeks Leningrad, dibuat tahun 1008.
KitabKitab Amsal
KategoriKetuvim
Bagian Alkitab KristenPerjanjian Lama
Urutan dalam
Kitab Kristen
20

Teks

Struktur

Ayat 3

Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya,
siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.[4]

Perkataan yang sembarangan dan lidah yang tak terkendali dapat merusak pengaruh seseorang untuk kebenaran, menyebabkan orang itu berdosa (Pengkhotbah 5:6) dan mempengaruhi hubungan orang itu dengan Allah (Pengkhotbah 5:7). Seorang yang sempurna akan menguasai perkataannya dengan saksama (Amsal 8:6-8; Yakobus 3:2). Orang percaya harus memohon pertolongan dari Allah dalam mengendalikan lidahnya (lihat Mazmur 141:3; bandingkan Amsal 10:14,19; 18:7; 2 Timotius 3:3; Yakobus 3:2-13).[5]

Ayat 10

Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran,
tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.[6]

Sering kali orang berselisih dan bertengkar mempertahankan pendapatnya sendiri karena kesombongan. Dengan melakukan hal itu mereka mungkin ingin dianggap terbesar (Lukas 22:24), memberontak terhadap yang berkuasa (Bilangan 12:2) atau kepada kebenaran alkitabiah (2 Timotius 4:3-4), atau terdorong oleh roh pemisah (1 Korintus 3:3-4). Apabila terjadi perselisihan, kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kesombongan terlibat dalamnya ataukah karena kita sungguh-sungguh ingin mempertahankan kebenaran (Galatia 2:4-5; 1 Tesalonika 2:2; Yudas 1:3).[5]

Ayat 24

Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya;
tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.[7]

Alkitab mengarahkan orang-tua untuk mendisiplinkan anak-anak mereka dengan "tongkat" sepanjang masa pertumbuhan mereka. Memukul anak hanya boleh dilakukan manakala si anak dengan sengaja tidak mau taat atau memberontak; tujuan pukulan hanyalah meniadakan kebebalan, pemberontakan, dan sikap tidak hormat kepada orang-tua (Amsal 22:15). Disiplin orang-tua yang memadai, yang dilaksanakan dengan bijaksana, penuh kasih, dan tenggang rasa membantu anak-anak untuk belajar bahwa perilaku yang salah membawa dampak tidak enak dan mungkin meliputi penderitaan (Amsal 29:15). Disiplin semacam itu diperlukan agar anak-anak tidak membentuk sikap yang nantinya akan membawa kehancuran dan kematian (Amsal 19:18; 23:13-14). Disiplin saleh di dalam keluarga akan membawa kebahagiaan dan sejahtera di dalam rumah tangga (Amsal 29:17); disiplin itu harus senantiasa dilaksanakan karena kasih sebagaimana dilakukan oleh Bapa sorgawi kita (Ibrani 12:6-7; Wahyu 3:19).[5]

Referensi

  1. J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
  2. (Indonesia) WS Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, sastra dan nubuatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.
  3. Amsal 10:1
  4. Amsal 13:3
  5. The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  6. Amsal 13:10
  7. Amsal 13:24

Pranala luar

This article is issued from Wikipedia. The text is licensed under Creative Commons - Attribution - Sharealike. Additional terms may apply for the media files.