Lukas Rumkorem
Mayor Tituler TNI AD Lukas Rumkorem atau lebih dikenal sebagai L Rumkorem adalah pemimpin perlawanan terhadap Jepang di Biak, Papua, pada 1943. Meski dikenal sebagai pejuang kemerdekaan rakyat Papua, tetapi tidak banyak informasi tentangnya.
Pada 1942, Jepang masuk ke Indonesia dengan tujuan untuk menguasai seluruh wilayah Asia Tenggara. Salah satu wilayah yang dijajaki Jepang adalah Papua, yang menyebabkan penderitaan pada rakyatnya. Pasalnya, rakyat Papua dijadikan budak, dipukuli, bahkan dianiaya secara kejam. Pada akhirnya, rakyat Papua berani melakukan perlawanan terhadap Jepang. Salah satu perlawanan rakyat Papua terhadap Jepang terjadi di Biak, yang dipimpin oleh L Rumkorem. Pada 1943, rakyat Biak melakukan perlawanan dengan menggunakan gerakan Koreri. Koreri adalah sebuah gerakan rakyat Biak dalam melakukan perlawanan terhadap Jepang yang berarti "kita berganti kulit".
Koreri sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Biak, yaitu “Ko” yang berarti kita dan “Reri” yang berarti ganti kulit. Kendati demikian, frasa berganti kulit tidak dalam arti sebenarnya, tetapi sebuah kiasan yang bermakna “kehidupan bahagia yang abadi selamanya”. Perlawanan dan pemberontakan rakyat Biak terhadap praktik pendudukan Jepang yang dikomandoi oleh L Rumkorem menerapkan strategi perang gerilya. Strategi ini dilakukan karena rakyat Biak tidak memiliki persenjataan yang mumpuni untuk melawan Jepang.
Meskipun banyak yang menjadi korban, rakyat Biak tetap tidak menyerah. Pada akhirnya, strategi perang gerilya mampu membuat Jepang kewalahan dalam menghadapi perlawanan rakyat Biak. Kegigihan mereka pun berbuah manis. Di bawah pimpinan L Rumkorem, Biak menjadi daerah pertama di Indonesia yang terbebas dari penjajahan Jepang.[1]
Pada September 1945, Rumkorem diketahui mendirikan Perserikatan Indonesia Merdeka (PIM), sebuah gerakan partai politik pertama di Pulau Biak. Partai tersebut pertama berpusat di Nusi dimana diadakan pertemuan pada bulan September dan November 1945. Namun sejar Januari 1946 berpusat di Bosnek, Biak Timur. Pertengahan tahun 1947, Rumkorem ditangkap otoritas Belanda karena dituduh akan membunuh Frans Kaisiepo dan Marcus Kaisiepo. PIM baru aktif kembali pada tahun 1949 setelah datangnya Corinus Krey dari Hollandia pada tanggal 7 September 1949. Diadakan pertemuan PIM pada tanggal 1 Oktober 1949, di rumah kepala kampung Yenures, David Rumaropen. Pada tanggal 5 Oktober 1949, PIM kembali diaktifkan dengan Lukas Rumkorem, sebagai ketua, Corinus Krey sebagai wakil, J. Tarumaselly sebagai penasihat dan Petrus Warikar sebagai sekertaris.[2]
Pada tahun 1958, gerakan baru dibentuk Lukas Rumkorem dengan nama Tentara Tjadangan Tjenderawasih (TTT), berdasarkan pengakuan J. Tarumaselly, TTT juga memiliki cabang di daerah lain di Papua. Organisasi ini melatih pemuda Biak diluar Papua dan untuk membantu operasi Trikora. TTT berhubungan langsung dengan konsulat jendral Indonesia di Singapura dan menggunakan perantara keturunan Tionghoa, karena pergerakannya lebih bebas menggunakan kapal KPM. Beberapa informasi yang berhasil diselundupkan berupa beberapa foto lokasi potensial di Pulau Biak oleh J. Tarumaselly dan T. Rumngeur yang diberikan pada wakil pemerintah Indonesia di Singapura, Ambon, Hollandia, dan Serui. Aktivitas TTT mulai terhambat dengan ditangkapnya David Woisiri, Rafael Maselkosu, J. Tarumaselly, Jonathan Saroy dan Fritz Werluken yang merupakan anggota TTT di Serui.[2] Atas jasa-jasanya, L Rumkorem mendapat gelar kehormatan dari Pemerintah Indonesia dan diberi pangkat Mayor Tituler Angkatan Darat. Putranya yang bernama Seth Rumkorem berkesempatan untuk mengikuti pendidikan Bintara di Cimahi, Bandung. Walau kemudian putranya membelot menjadi pendiri Markas Victoria, salah satu fraksi OPM.
Referensi
- https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/08/080000179/l-rumkorem-pemimpin-perlawanan-terhadap-jepang-di-biak?page=all
- Materay, Bernarda; Wabisay, Yan Dirk (2020-07-01). "PERTUMBUHAN NASIONALISME INDONESIA DI KALANGAN ORANG PAPUA 1963--1969 GROWTH OF INDONESIA NATIONALISM AMONG THE PAPUANS 1963--1969". Masyarakat Indonesia. 45 (1): 1–18. doi:10.14203/jmi.v45i1.883. ISSN 2502-5694. Diakses tanggal 2022-06-25.