Quranisme

Quranisme (bahasa Arab: قرآنيون, Qurʾāniyūn) adalah aliran Islam yang percaya bahwa Quran adalah satu-satunya sumber autentik agama Islam. Para Quranis umumnya menolak kewenangan hadits atas agama. Ini berbeda dengan aliran Sunni, Syi'ah, dan Ibadi yang sama-sama menganggap pentingnya hadits dalam agama Islam.[1]

Ajaran

Quranis menolak kewenangan hadits pada ranah teologi. Mereka berpegangan pada ayat-ayat Quran yang diyakini mendukung pandangan mereka bahwa semua perintah atau instruksi yang diperlukan seorang Muslim bisa ditemukan di dalam Quran tanpa perlu merujuk pada hadits:[2]

Sejauh mana penolakan keautentikan Sunnah oleh para Quranis masih belum jelas,[3] namun kelompok-kelompok yang lebih dominan sangat mengkritik keautentikan hadits dan menolaknya karena berbagai alasan. Alasan yang paling umum adalah bahwa hadits tidak disebutkan dalam Quran sebagai sumber teologi dan praktik Islam, hadits tidak muncul dalam bentuk tertulis sampai lebih dari dua abad setelah wafatnya Muhammad, dan hadits mengandung kesalahan dan kontradiksi internal.[3][4]

Quranis ternama

  • Aslam Jairajpuri (1882–1955)
  • Rashad Khalifa (1935–1990), biokimiawan Mesir-Amerika dan reformis Islam.
  • Ahmed Subhy Mansour (l. 1949), cendekiawan Islam Mesir-Amerika.[5]
  • Chekannur Maulavi (l. 1936; hilang 29 Juli 1993)[6]
  • Ibrahim an-Nazzam (775–845)[7]
  • Ghulam Ahmed Pervez (1903–1985), cendekiawan Islam Pakistan dan pendiri Tolu-e-Islam.[8]
  • Mohammed Shahrour (l. 1938)
  • Asarulislam Syed (l. 1951), ahli saraf dan psikiater Pakistan-Amerika, pendiri Partai Pakistan Jannat.[9]
  • Edip Yuksel (l. 1957), filsuf dan pengacara Kurdi-Amerika.[10][11][12][13]

Lihat pula

  • Aliran liberal dalam Islam
  • Kritik terhadap hadits
  • Hadits larangan Umar terhadap hadits
  • Qur'an dan Sunnah
  • Sola scriptura
  • Karaisme

Referensi

  1. "The Quranist Path". Diakses tanggal 14 December 2011.
  2. Edip Yuksel, Layth Saleh al-Shaiban, Martha Schulte-Nafeh, Quran: A Reformist Translation, Brainbow Press, 2007
  3. Richard Stephen Voss, Identifying Assumptions in the Hadith/Sunnah Debate, 19.org, Accessed December 5, 2013
  4. Aisha Y. Musa, The Qur’anists, Florida International University, accessed May 22, 2013.
  5. "About Us". Ahl-alquran.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-01-31. Diakses tanggal February 6, 2010.
  6. S I L E N C E D . . . .? ( The case of Moulavi Chekanoor ) Diarsipkan 2014-02-04 di Wayback Machine., chekanoormolavi.com, accessed October 7, 2013
  7. I. M. Al-Jubouri, Islamic Thought: From Mohammed to September 11, Xlibris, 2010, pg. 147
  8. Khaled Ahmed, A matter of interpretation, The Express Tribune, accessed July 30, 2013
  9. Who is Asarulislam to tell you what you should do?, quaideazam.com, Accessed December 5, 2013
  10. Aisha Y. Musa. Hadith as Scripture; Discussions on the Authority of Prophetic Traditions in Islam 2008, ISBN 978-0-230-60535-0.
  11. "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-06-10. Diakses tanggal 2014-02-15.
  12. Jamie Glazov. From Radical to Reformed Muslim Diarsipkan 2013-01-03 di Archive.is. FrontPageMag.com, December 04, 2007.
  13. Jeffrey T. Kenney and Ebrahim Moosa, Islam in the Modern World, Routledge, 2013, p. 21.

Bacaan lanjutan

  • Aisha Y. Musa, Hadith as Scripture: Discussions on the Authority of Prophetic Traditions in Islam, New York: Palgrave, 2008. ISBN 0-230-60535-4.
  • Ali Usman Qasmi, Questioning the Authority of the Past: The Ahl al-Qur'an Movements in the Punjab, Oxford University Press, 2012. ISBN 0-19-547348-5.
  • Daniel Brown, Rethinking Tradition in Modern Islamic Thought, Cambridge University Press, 1996. ISBN 0-521-65394-0.

Pranala luar

This article is issued from Wikipedia. The text is licensed under Creative Commons - Attribution - Sharealike. Additional terms may apply for the media files.