Raden Kusen
Raden Kusen dengan Nama Asli Raden Husain/ Kin San Atau Adipati Pecat Tondo Terung adalah Panglima Perang Kerajaan Majapahit dan seorang Adipati yang memimpin Kadipaten Terung (balongbendo&sidoarjo). Beliau merupakan Saudara Berbeda Bapak dari Raden Patah yang merupakan Pendiri Kesultanan Demak. Beliau seharusnya menggantikan Ayahnya, Arya Dillah sebagai Adipati di Kadipaten Palembang, namun Beliau dengan Saudaranya, Raden Patah memilih meninggalkan Tanah Kelahirannya, Palembang dan Pergi Berpetualang ke Tanah Jawa. Keturunannya, Sri Susuhunan Abdurrahman, yang merupakan Pendiri Kesultanan Palembang Darussalam sebagai Pewaris Sah dari Kadipaten Palembang.
| Raden Kusen | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Panglima Majapahit Terakhir | |||||
| Lahir | Raden Husain Kin San 146? | ||||
| Wafat | 15?? | ||||
| |||||
| Ayah | Arya Dillah | ||||
| Ibu | Siu Ban Ci | ||||
| Istri | 4 | ||||
| Anak | |||||
| Agama | |||||
Kelahiran Dua Bersaudara Hasan dan Husain
Menurut Babad Tanah Jawi, Brawijaya V, (Raja Majapahit Terakhir) Mempunyai Banyak Selir, salah satunya Siu Ban Ci Puteri Tionghoa dari Kyai Batong (alias Tan Go Hwat), yang dicemburui oleh Sang Permaisuri Brawijaya, Ratu Dwarawati Puteri Champa. Brawijaya terpaksa memberikan/ menghadiahi Siu Ban Ci kepada adipatinya di Palembang, yaitu Arya Dillah. Arya Dillah mendapati Siu Ban Ci dalam keadaan Hamil hasil perkawinan dengan Brawijaya yang kemudian melahirkan anak yang diberi nama Raden Bagus Hasan yang dikemudian hari dikenal dengan Raden Patah. Lalu Arya Dillah menikahi Siu Ban Ci dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Raden Husain/ Kin San.
Berpetualang ke Tanah Jawa
Raden Husain dengan Raden Hasan pun memulai perjalanan merantau ke Tanah Jawa. Mereka singgah di Cirebon untuk menuntut Ilmu dengan Sunan Gunung Jati, Raden Kusen menikahi Puteri Sunan Gunung Jati bernama Nyai Mertasari dikenal juga dengan Nyaimas Ranggaluwung, dan dikaruniai 2 anak yang diberinama Raden Surodirejo (Adipati Palembang I) dan Raden Santri (Pangeran Aryo Kesumo Cirebon). Raden Patah melanjutkan perjalanan untuk bertemu dan berguru dengan Sunan Ampel. sementara itu, Raden Kusen mengabdi kepada Raja Brawijaya.
Mengabdi kepada Kerajaan Majapahit
Raden Kusen diberi tanah di Kadipaten Terung, sementara itu, Raden Patah membuka Perkampungan baru di Demak Bintoro, atas perintah Sunan Ampel. Mengetahui anaknya membuka Lahan Baru, Brawijaya memanggil Raden Patah ke hadapannya. Bukannya menghukumnya karena tidak memberikan Upeti, Raden Patah ditwari untuk menjadi Adipati Demak.
Pengkudetaan Brawijaya V oleh Girindrawardhana (Brawijaya VI)
Setelah itu, terjadi pengkudetaan yang dilakukan oleh Girindrawarddhana kepada Brawijaya, Girindrawarddhana mengangkat dirinya sebagai Raja Majapahit dengan gelar Brawijaya VI. Semua Kadipaten pun harus tunduk dibawah kepemimpinan Brawijaya VI. Tidak dengan Raden Patah yang mengetahui bahwa Ayahnya dikudeta oleh Brawijaya VI, Raden Patah yang merasa dirinya paling berhak meneruskan Tahta Kerajaan Majapahit pun melepas kan diri dari Wilayah Kekuasaan Brawijaya VI, dan mendirikan Kesultanan Demak, Kerajaan yang bercorak Islam karena banyak Adipati Majapahit yang dikala itu sudah memeluk Islam atas Dakwah dari Para Walisongo dan atas Izin Allah Azza Wa Jalla.
Perang dengan Demak
Dimasa pemerintahan Raden Patah ing Kesultanan Demak, Raden Patah mengerahkan Pasukan yang dipimpin oleh Sunan Ngudung Ayah dari Sunan Kudus untuk menyerang Ibukota Majapahit dan mengkudeta Brawijaya VI. Brawijaya VI menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Raden Kusen. Serangan pasukan Kesultanan Demak mampu dipatahkan oleh pasukan Raden Kusen. Dan Terbunuhnya Sunan Ngudung oleh Tombak yang tertancap di bagian Dada oleh Raden Kusen membuat Moral pasukan berkurang dan memaksa Pasukan Demak untuk mundur. setelah beberapa dekade, Raden Patah kembali menyiapkan Pasukan yang lebih kuat dari Pasukan Pertama, Raden Kusen pun kembali dipercaya untuk menjadi Panglima karena Kesuksesan sebelumnya, namun nasib tersenyum kepada Pasukan Majapahit dan Pasukan Demak mengkocar kacirkan semangat Luhur pasukan Majapahit, Raden Kusen melarikan diri kearah Blambangan, dan Kesultanan Demak berhasil menaklukan Kerajaan Majaphit bertanda berakhirnya era Kerajaan Majapahit.
Bergabung dengan Demak
Setelah itu, Raden Kusen pergi ke Ibukota Kesultanan Demak untuk menyerahkan diri. Raden Patah menerima penyerahan diri Raden Kusen, dan memeberikan Raden Kusen Tanahnya kembali di Terung, (Sekarang Sidoarjo), Raden Kusen pun wafat dan dimakamkan disana.
Referensi
1. Babad Tanah Jawi