Rusa merah

Rusa merah (Cervus elaphus) adalah salah satu spesies rusa terbesar. Rusa merah mendiami sebagian besar Eropa, wilayah Pegunungan Kaukasus, Asia Kecil, Iran, bagian dari Asia Barat, dan Asia Tengah. Rusa merah juga mendiami kawasan Pegunungan Atlas antara Maroko dan Tunisia di Afrika barat laut, menjadi satu-satunya spesies rusa yang menghuni Afrika. Rusa merah telah diperkenalkan ke daerah lain, termasuk Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada, Peru, Uruguay, Chili dan Argentina.[1][2] Di banyak bagian dunia, daging dari rusa merah digunakan sebagai sumber makanan.

Rusa merah
Cervus elaphus

Rekaman
Data
Waktu kehamilan33,5 pekan
Sumber darired deer horn oil (en) dan elk meat (en)
Status konservasi
Risiko rendah
IUCN55997072
Taksonomi
KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasMammalia
OrdoArtiodactyla
FamiliCervidae
TribusCervini
GenusCervus
SpesiesCervus elaphus
Linnaeus, 1758
Distribusi

Rusa merah adalah ruminansia, ditandai dengan perut empat bilik. Bukti genetik menunjukkan bahwa rusa merah seperti yang didefinisikan secara tradisional adalah kelompok spesies, bukannya spesies tunggal, meskipun tetap diperdebatkan persisnya berapa banyak spesies yang termasuk dalam kelompok ini.[3][4] Elk atau wapiti yang berkerabat dekat dan sedikit lebih besar, asli dari Amerika Utara dan bagian timur Asia, telah dianggap sebagai upaspesies dari rusa merah, tetapi baru-baru ini telah ditetapkan sebagai spesies yang berbeda. Ini adalah mungkin bahwa nenek moyang semua rusa merah, termasuk wapiti, berasal dari Asia Tengah dan menyerupai rusa sika.[5]

Meskipun pada satu waktu rusa merah langka di beberapa bagian Eropa, mereka tidak pernah dekat dengan kepunahan. Reintroduksi dan upaya konservasi, terutama di Britania Raya, telah menghasilkan peningkatan populasi rusa merah, sementara daerah lain, seperti Afrika Utara, terus menunjukkan penurunan populasi.

Referensi

  1. Red Deer – South America | Online Record Book Preview. scirecordbook.org
  2. Red deer – Cervus elaphus. photoshelter.com
  3. Moore, G.H.; Littlejohn, R.P. (1989). "Hybridisation of farmed wapiti (Cervus elaphus manitobensis) and red deer (Cervus elaphus)". New Zealand Journal of Zoology. 16 (2): 191–198. doi:10.1080/03014223.1989.10422568.
  4. Perez-Espona, S.; Hall, R. J.; Perez-Barberia, F. J.; Glass, B. C.; Ward, J. F.; Pemberton, J. M. (2012). "The Impact of Past Introductions on an Iconic and Economically Important Species, the Red Deer of Scotland". Journal of Heredity. 104 (1): 14–22. doi:10.1093/jhered/ess085. PMID 23091222.
  5. Geist, Valerius (1998). Deer of the World: Their Evolution, Behavior, and Ecology. Mechanicsburg, Pa: Stackpole Books. ISBN 0-8117-0496-3.

Bacaan lebih lanjut

  • Cameron, Donald ; Fortescue, Hugh Fortescue 3rd, earl ; Shand, Alexander Innes (1896) Red Deer: Natural history, London, New York [etc.]: Longmans, Green and co.
  • Clarke, J. (1866), The naturalist: A treatise on the growth of the horns of the red deer, Barnstaple, A.P. Wood
  • Heptner, V. G. ; Nasimovich, A. A. ; Bannikov, A. G. ; Hoffman, R. S. (1988) Mammals of the Soviet Union, Volume I, Washington, D.C.: Smithsonian Institution Libraries and National Science Foundation
  • Jeffries, Richard (1884), Red Deer, London Longmans, Green#B.
  • O'Carra, B.; Williams, D.M.; Mercer, B.; Wood, B. (2014). "Evidence of environmental change since the earliest medieval period from the inter-tidal zone of Galway Bay". Ir Nat J. 33: 83–88.

Pranala luar

This article is issued from Wikipedia. The text is licensed under Creative Commons - Attribution - Sharealike. Additional terms may apply for the media files.