Genosida Asiria
Genosida Asiria (dikenal pula sebagai Sayfo atau Seyfo, bahasa Suryani: ܩܛܠܐ ܕܥܡܐ ܣܘܪܝܝܐ atau ܣܝܦܐ) adalah pembantaian massal orang-orang Asiria (Kristen Suriah) di Anatolia tenggara dan Azerbaijan oleh Kesultanan Utsmaniyah selama Perang Dunia I, bersamaan dengan Genosida Armenia dan Yunani.[1][2] Dalam peristiwa ini, orang-orang Asiria di Mesopotamia hulu (kawasan Tur Abdin, Hakkâri, provinsi Van, dan Siirt di Turki tenggara modern, dan kawasan Urmia di Iran barat laut) secara paksa dipindahkan dan dibantai oleh pasukan Utsmaniyah Muslim (Turki), bersama dengan orang-orang bersenjata dan sekutu Muslim lainnya, termasuk orang Kurdi, Chechen dan Sirkasia, antara tahun 1914 hingga 1920, dengan serangan lanjutan oleh milisi Arab lokal terhadap warga sipil yang melarikan diri.[1]

Orang Asiria terbagi ke dalam beberapa denominasi gereja yang saling bertentangan, yakni Gereja Ortodoks Suriah, Gereja Nestorian, dan Gereja Katolik Kaldea. Sebelum Perang Dunia I, mereka tinggal di daerah pegunungan dan terpencil dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah (beberapa di antaranya tidak memiliki kewarganegaraan). Upaya pemusatan kesultanan pada abad ke-19 menyebabkan peningkatan kekerasan dan bahaya bagi orang Asiria.
Pembunuhan massal warga sipil Asiria dimulai selama pendudukan Utsmaniyah di Azerbaijan dari Januari hingga Mei 1915, di mana pembantaian dilakukan oleh pasukan Utsmaniyah dan orang-orang Kurdi yang mendukung Utsmaniyah. Di provinsi Bitlis, pasukan Utsmaniyah yang kembali dari Persia bergabung dengan suku Kurdi setempat untuk membantai penduduk Kristen setempat (termasuk orang-orang Asiria). Pasukan Utsmaniyah dan Kurdi menyerang orang-orang Asiria di Hakkari pada pertengahan tahun 1915, dan berhasil mengusir mereka pada bulan September meskipun mereka telah memasang pertahanan militer yang terkoordinasi. Gubernur Mehmed Reshid memprakarsai genosida atas semua komunitas Kristen di provinsi Diyarbekir, termasuk Kristen Suriah. Hanya ada beberapa perlawanan bersenjata yang sporadis di beberapa bagian Tur Abdin. Orang-orang Asiria Utsmaniyah yang tinggal lebih jauh ke selatan, yakni di Irak dan Suriah saat ini, tidak termasuk sasaran dalam genosida ini.
Sayfo terjadi secara bersamaan dan terkait erat dengan genosida Armenia, meskipun Sayfo dianggap kurang sistematis. Dalam genosida ini, orang-orang setempatlah yang memainkan peran yang lebih besar dibanding pemerintah Utsmaniyah, meskipun pemerintah Utsmaniyah juga turut memerintahkan serangan terhadap orang-orang Asiria tertentu. Motif genosida ini di antaranya adalah anggapan bahwa orang-orang Asiria kurang setia kepada Kesultanan Utsmaniyah dan ingin mengambil alih tanah mereka. Pada Konferensi Perdamaian Paris 1919, delegasi Asiria-Kaldean mengatakan bahwa kerugian mereka atas genosida ini adalah 250.000 orang (sekitar setengah dari total populasi mereka sebelum perang); keakuratan angka ini tidak diketahui. Sayfo kurang dipelajari dibandingkan genosida Armenia. Upaya untuk membuatnya diakui sebagai genosida pun baru dimulai pada tahun 1990-an dengan dipelopori oleh para diaspora Asiria-Kaldean. Meskipun beberapa negara sudah mengakui bahwa orang-orang Asiria di Kesultanan Utsmaniyah adalah korban genosida, pernyataan ini ditolak oleh pemerintah Turki.
Catatan kaki
- Travis, Hannibal. Genocide in the Middle East: The Ottoman Empire, Iraq, and Sudan. Durham, NC: Carolina Academic Press, 2010, 2007, pp. 237–77, 293–294.
- Khosoreva, Anahit. "The Assyrian Genocide in the Ottoman Empire and Adjacent Territories" in The Armenian Genocide: Cultural and Ethical Legacies. Ed. Richard G. Hovannisian. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2007, pp. 267–274. ISBN 1-4128-0619-4.
Pranala luar
- Seyfo Center: Assyrian Genocide Research Center
- Assyrian Holocaust – religious persecution and ethnic genocide of Assyrians in the Middle East