Stasiun Cilegon

Stasiun Cilegon (CLG) adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Jombang Wetan, Jombang, Cilegon. Stasiun yang terletak pada ketinggian +14 meter ini merupakan stasiun yang berada di Daerah Operasi I Jakarta dan letaknya dekat dengan Masjid Agung Cilegon. Hanya ada satu kereta api saja yang melayani angkutan penumpang di stasiun ini, yaitu KA Lokal Merak dengan relasi Rangkasbitung-Merak PP.

Stasiun Cilegon
LM09

Tampak bangunan Stasiun Cilegon.
LokasiJalan Stasiun Cilegon
Jombang Wetan, Jombang, Cilegon, Banten 42411
Indonesia
Ketinggian+14 m
OperatorKAI Commuter
Letak dari pangkal
Jumlah peron2 (satu peron sisi dan satu peron pulau yang sama-sama rendah)
Jumlah jalur5 (jalur 2: sepur lurus)
Informasi lain
Kode stasiun
  • CLG
  • 0107
  • LEGON
[2]
KlasifikasiII[2]
Sejarah
Dibuka1 Desember 1900
Nama sebelumnyaTjilegon
Perusahaan awalStaatsspoorwegen
Operasi layanan
Lokal Merak
Stasiun sebelumnya Stasiun berikutnya
Tonjong Baru Lokal Merak
Merak–Rangkasbitung, p.p.
Krenceng
ke arah Merak
Fasilitas dan teknis
Fasilitas     
Tipe persinyalanElektrik tipe DBRI Vital Processor Interlocking[3]
Lokasi pada peta

Sejarah

Stasiun ini dibuka pada 1 Desember 1900 oleh perusahaan Staatsspoorwegen (SS), dengan petak jalan dari Stasiun Serang hingga Stasiun Anyer Kidul sepanjang 27km.[4]

Pada era Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) hingga era Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), emplasemen Stasiun Cilegon digunakan untuk tempat menyimpan atau stabling sekaligus juga tempat langsiran gerbong-gerbong barang. Gerbong-gerbong barang ini adalah rangkaian dari KA angkutan baja coil yang menuju ke jalur cabang pabrik PT Krakatau Wajatama, anak perusahaan dari PT Krakatau Steel. Terdapat beberapa seri lokomotif yang dijadikan sebagai pelangsir atau shunter pada emplasemen stasiun ini, yaitu lokomotif BB300, lokomotif C300, lokomotif D301, dan juga sebuah lokomotif pelangsir berukuran kecil (nomor dan tipe tidak diketahui). Lokomotif pelangsir berukuran kecil ini masih ada hingga sekarang dan dijadikan sebuah monumen di area taman PT Krakatau Wajatama.

Diperkirakan pada ada awal era 2000-an, aktivitas langsiran gerbong-gerbong KA angkutan baja coil ini pun akhirnya berhenti dan layanan KA barang yang menuju ke jalur cabang PT Krakatau Wajatama akhirnya ditutup. Bekas railbed dari jalur cabang ini sebagian besar hanya ditimbun saja oleh tanah dan aspal, serta beberapa sisa rel dan jembatan KA masih dapat dilihat. Terdapat pula beberapa bekas gerbong barang yang tersisa dan terbengkalai di emplasemen stasiun ini.

Bekas PPCW Babarandek di emplasemen Stasiun Cilegon, 2020.
Bekas gerbong GL di emplasemen Stasiun Cilegon.
Bekas gerbong YR di emplasemen Stasiun Cilegon.
Bekas gerbong GW dan YYW di emplasemen Stasiun Cilegon.

Stasiun Cilegon sebelumnya memiliki 5 jalur, dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Jalur 1 dan 2 digunakan untuk lalu-lalang dan persilangan kereta, jalur 3 digunakan untuk tempat menyimpan atau stabling gerbong datar, serta jalur 4 dan 5 merupakan jalur nonaktif yang digunakan untuk menyimpan bekas gerbong-gerbong barang afkir. Saat masih aktif, jalur 4 dan 5 digunakan untuk menyimpan atau stabling maupun aktivitas langsiran gerbong-gerbong barang. Jalur 5 juga memiliki wesel yang menuju ke sebuah jalur buntu atau sepur badug.

Pada tahun 2020 hingga 2021, dilakukan sebuah proyek upgrade atau pergantian rel menjadi tipe R54 pada lintas Rangkasbitung-Merak. Imbas dari proyek ini, jalur di Stasiun Cilegon pun berkurang menjadi hanya 4 jalur saja dan jalur 5 dibongkar karena lahannya terpakai untuk pembangunan tembok pembatas area stasiun. Bangunan stasiun ini serta ruangan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen masih dipakai hingga sekarang dan dijadikan sebagai aset cagar budaya.[5]

Bangunan dan tata letak

Stasiun Cilegon sebelumnya memiliki 5 jalur, dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Jalur 1 dan 2 digunakan untuk lalu-lalang dan persilangan kereta, jalur 3 digunakan untuk tempat menyimpan atau stabling gerbong datar, serta jalur 4 dan 5 merupakan jalur nonaktif yang digunakan untuk menyimpan bekas gerbong-gerbong barang afkir. Stasiun ini juga sempat memiliki sebuah rel cabang yang menuju ke PT Krakatau Wajatama.

Bekas jalur 5 Stasiun Cilegon sebelum dibongkar, 2020.

Saat masih aktif, jalur 4 dan 5 digunakan untuk menyimpan atau stabling maupun aktivitas langsiran gerbong-gerbong barang. Jalur 5 juga memiliki wesel yang menuju ke sebuah jalur buntu atau sepur badug.

Bekas jalur 4 Stasiun Cilegon yang diputus, 2020.
Bekas jalur 5 badug Stasiun Cilegon yang tertimbun tanah, 2020.

Pada tahun 2020 hingga 2021, dilakukan sebuah proyek upgrade atau pergantian rel menjadi tipe R54 pada lintas Rangkasbitung-Merak. Imbas dari proyek ini, jalur di Stasiun Cilegon pun berkurang menjadi hanya 4 jalur saja dan jalur 5 dibongkar karena lahannya terpakai untuk pembangunan tembok pembatas area stasiun. Bangunan stasiun ini serta ruangan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen masih dipakai hingga sekarang dan dijadikan sebagai aset cagar budaya.[5]

Layanan kereta api

Lokal Merak, tujuan Merak dan tujuan Rangkasbitung (ekonomi lokal).

Galeri

Referensi

  1. Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).
  2. Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020.
  3. Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia" (PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46).
  4. "Haltestempels Nederlands-Indië". Studiegroep Zuid-West Pacific. Diakses tanggal 3 Agustus 2017.
  5. "5 Gedung Tua Layak Jadi Cagar Budaya". 17 Februari 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-08-03. Diakses tanggal 3 Agustus 2017. Kelimanya adalah makam Ki Wasyid, makam Syekh Jamaludin, Stasiun Kereta Api (KA) Cilegon, Yayasan Maulana Hasanudin, serta rumah tinggal Belanda atau yang kini digunakan sebagai rumah dinas Wali Kota Cilegon.
Stasiun sebelumnya Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Krenceng
ke arah Merak
Merak–Tanah Abang Tonjong Baru
ke arah Tanah Abang


This article is issued from Wikipedia. The text is licensed under Creative Commons - Attribution - Sharealike. Additional terms may apply for the media files.