Bahasa Kangean

Bahasa Kangean (Besa Kangayan) adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh Suku Kangean yang berasal dari pulau Kangean di wilayah kepulauan Kangean.[3] Melalui diaspora masyarakat bersuku Kangean, bahasa ini juga dituturkan di beberapa wilayah lain terutama di daerah-daerah sekitar kepulauan Kangean seperti di Madura terutama daerah Sumenep, sebagian Surabaya, sebagian Malang, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta di wilayah luar negeri meliputi Semenanjung Kra maupun Singapura.[4]

Kangean
Besa Kangayan (Kangean)
Dituturkan di Indonesia
WilayahIndonesia dan wilayah diaspora Indonesia
EtnisKangean
Penutur bahasa
126.000–127.000  (2013 data)[1]
Bentuk baku
Kangean Baku
Dialek
Modern:

Historis:

Status resmi
Diakui sebagai
bahasa minoritas di
Kode bahasa
ISO 639-3kkv
Glottologkang1289[2]
Wilayah dimana bahasa Kangean dituturkan secara dominan (Provinsi Jawa Timur terutama di Kepulauan Kangean; mencakup wilayah pulau Kangean, Sapeken, Paliat, Saubi, Soemoerboengkar, dan sebagian daerah-daerah di sekelilingnya)

Bahasa Kangean merupakan salah satu bahasa yang terdapat dalam rumpun bahasa Maduris-Kangeanesik yang bercabang dari rumpun Malayo-Sumbawa (disebut juga sebagai 'rumpun bahasa Indonesia Barat') yang diturunkan dari rumpun Malayo-Polinesia yang merupakan cabang dari rumpun bahasa Austronesia.[5][6]

Klasifikasi

Bahasa Kangean memiliki ragam variasi dialek yang dapat dikenali melalui perbedaan fonologi, aksentologi, maupun idiomatologi yang umumya terbagi kedalam distribusi penggolongan melalui beberapa metode, yakni baik secara regional geografis maupun sosiokultural.

Regional Geografis

Secara regional geografis, pengelompokan dialek dapat dibedakan menjadi dua grup utama; yakni rumpun dialek darat dan pesisir.

Rumpun bahasa Kangeanik Daratan

  1. Duko (di Arjasa)
  2. Dialek Dandung (di Dandung)
  3. Dialek Torjek (di Torjek)
  4. Dialek Laok Jangjang (di Laok Jangjang)

Rumpun bahasa Kangeanik Pesisir

  1. Dialek Pajanangger (di Pajanangger)
  2. Sapeken (di Sapeken)
  3. Saseel (di pulau Saseel)
  4. Dialek Pagerungan (di pulau Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil)
  5. Dialek Salarangan (di Salarangan)
  6. Dialek Saebus (di pulau Saebus)

Sosiokultural

Secara unggah-ungguh (tingkat kesopansantunan), dialek dalam bahasa Kangean dibedakan menjadi 3 bagian tingkatan; yakni Ako-Kao (disebut juga Eson-Sede atau Eson-Kake), Nira-Nae (disebut juga Die-Dika), dan Kaula-Panjenengan.

  • Ako-Kao (Eson-Sede atau Eson-Kake)

Pada tingkat ini, biasanya digunakan kepada orang sebaya.

  • Nira-Nae (Die-Dika)

Pada tingkat ini, biasanya digunakan oleh menantu kepada mertua.

  • Kaula-Panjenengan

Pada tingkat ini, biasanya digunakan kepada orang yang lebih tua.

Pronomina persona bahasa Kangean
Glos Bentuk bebas
Ako-Kao (Eson-Sede atau Eson-Kake) Nira-Nae (Die-Dika) Kaula-Panjenengan
1SG, 1PL.EXCL
'aku, saya, kami'
  • ako
  • eson
  • nira
  • die
kaula
2SG, 2PL
'kamu, Anda, kalian'
  • kao
  • sede
  • kake
  • nae
  • dika
panjenengan
3SG, 3PL
'dia/ia, beliau, mereka'
  • he
  • rea
dibikna kabih

Sistem Penulisan

Pada zaman modern, sistem penulisan bahasa Kangean menggunakan aksara Latin. Menurut sejarah perkembangannya, bahasa ini cenderung tidak memiliki suatu sistem penulisan yang dapat dipastikan, karena bahasa Kangean memiliki akar pengaruh sistem linguistik yang beragam dari masa ke masa.

Dalam bahasa Kangean, sistem penulisan kuno memiliki pengaruh dari bahasa-bahasa lain yang memainkan peranan cukup kuat. Dalam beberapa daerah di kepulauan Kangean, aksara yang digunakan dapat beragam, yakni diataranya meliputi aksara Lontarak (dikenali juga sebagai aksara Ugi/Bugis), aksara Makassar, aksara Kawi (Carakan Kuno), dan Pegon. Hal ini merupakan hasil dari pengaruh budaya suku-suku dari Sulawesi dan Kalimantan yang bermigrasi sejak ratusan hingga ribuan tahun dan berasimilasi dengan warga setempat yang melahirkan tradisi majemuk Kangean. Pengaruh budaya Jawa dan Madura juga memiliki andil utamanya pada masa kejayaan Majapahit dan Kadipaten Sumenep yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Kangean. Namun di lain sumber, penggunaan aksara Kawi di kepulauan Kangean cenderung dipengaruhi oleh suku Bali yang menggunakan aksara Kawi pada masa lampau, sebelum akhirnya berkembang menjadi aksara Bali.

Literatur

Literatur Kangean (bahasa Inggris: Kangeanese literature; Kangean literature) atau Sastra Kangean mencakup keseluruhan literatur oral dan yang dicatat atau ditulis dalam bahasa Kangean, maupun karya-karya sastra yang bersumber dari masyarakat Kangean yang diabadikan dalam bahasa-bahasa lain (namun literatur yang bukan berbahasa Kangean biasanya tidak dikonsiderasikan sebagai kanon). Literatur Kangean biasanya mengisahkan mengenai topik-topik yang berkaitan dengan cerita rakyat, dongeng, mitos, maupun catatan-catatan historis riil yang pernah terjadi pada masa lampau seperti contohnya yakni kisah para raja, kisah para perompak, dan lain sebagainya.

Salah satu literatur populer berbahasa Kangean yaitu folklor "Késah Lanun", yang mengisahkan mengenai perompak atau bajak laut yang berasal dari wilayah Lanao Selatan (Filipina) yang pernah berjaya menguasai wilayah laut dekat Kepulauan Kangean, Selat Makassar, sebagian Laut Jawa, hingga mencapai wilayah perairan kepulauan Riau dan Papua.[7]

Daftar Karya Sastra Kangean

  • Késah Lanun
  • Kandhana Rato Daeng Tjokro Bangkandhana Paq Dhalima — kisah mengenai penguasa (raja/ratu) Daeng Cokro Bangkandhana Paq Dhalima, tokoh yang berketurunan Bugis.
  • Khandana Radhin Djokomoerko
  • Kandhana Pandhita Siddik Sasmeto Ghoenong Pandeman — kisah mengenai pertapa (setara dengan konsep seorang buddha dalam ajaran Buddhisme) Siddik Sasmito dan sabdanya dari daerah Pandeman, Arjasa, pulau Kangean.
  • Salasila
  • Dhungengna Kandhulok
  • Dhungengna Matjan běn Kerbhi — dongeng mengenai harimau dan kerbau.
  • Dhungengna Ladhine
  • Dhungengna Sangembig
  • Dhungengna Bangbang Sutama — dongeng mengenai tokoh Bangbang Sutama.
  • Sang Embig
  • Dhungengna Toteq-Toteq bĕn Kapeteng
  • Jamaludin
  • Rato Kembang Koneng — kisah mengenai penguasa (raja/ratu) dari daerah Gua Koneng, Kalikatak, Arjasa, pulau Kangean.
  • Gondokoesoemo — literatur yang memiliki pengaruh Jawa.
  • Kandhana Radhin Somantre e naghara Kembhang-koneng — kisah mengenai Raden Sumantri dan sabdanya di daerah Gua Koneng, Kalikatak, Arjasa, pulau Kangean.
  • Kandhana pandhita Rahim e naghara Chibar-alam — kisah mengenai pertapa (setara dengan konsep seorang buddha dalam ajaran Buddhisme) Rahim dan sabdanya dari wilayah negeri Chibar(?).
  • Kandhana Dewi Rengganes — kisah mengenai Dewi Rengganis, seorang tokoh bangsawan (juga dikisahkan dalam Sastra Lombok dan Sastra Jawa).
  • Kandhana Bato-goenong
  • Djoko Sasigar — kisah mengenai tokoh Joko Sasigar (kemungkinan tokoh yang memiliki garis keturunan Jawa atau Bali secara susur galurnya).
  • Kandhana Radhin Bajanolla, pottrana Rato Eddjhim, adjhadhoeloek Ridjaloella e naghara — kisah mengenai Raden Bajanolla, putra sang Raja/Ratu Eddjhim, yang dijuluki sebagai Rijalulla (rajalela(?))-nya negeri.
  • Totoranna Sang Boekal bĕn Sang Katetempa - ujaran atau sabdanya Sang Bukal dan Sang Katetempa.

Bahasa Belanda

  • Kangeansch verhaal (bahasa Indonesia: Kisah Kangean) — kisah yang berkaitan dengan Kangean.
  • Een Uilenspiegel en een Dwerghert-verhaal in het Kangeansch[8] (bahasa Indonesia: Kisah uilenspiegel(?) dan rusa kerdil di Kangean) — Kisah mengenai uilenspiegel(?) dan rusa kerdil di Kangean.

Kosakata

Bilangan

Berikut merupakan kosakata untuk bilangan dalam bahasa Kangean:

Bahasa Kangean Bahasa Indonesia[9]
nulnol
hètong satu
duê'dua
têlo'tiga
êmpa'empat
lèma'lima
ênêmenam
pèto'tujuh
bêlu'delapan
sangasembilan
hapolohsepuluh
hagêmikdua puluh lima
habidêk-
têlong atostiga ratus
lèmang atoslima ratus
pètong atostujuh ratus
bêlung atosdelapan ratus
  • sangang atos
  • hangang atos
sembilan ratus
haèbu seribu
dungèbudua ribu
  • sangang èbu
  • hangang èbu
sembilan ribu
hapoloh èbu sepuluh ribu
hagêmik èbudua puluh lima ribu
habidêk èbu-

Umum

Bahasa Kangean Bahasa Indonesia[10]
  • (ungkapan untuk kalimat tanya)
  • (prefiks pembentuk verba)
AkoAku
AlingAdik
-agên (sufiks)-kan (sufiks)
AnoAnu
BêcèkBaik
BêkésarMilik/hasil (dari) maharaja
BêjêhWaktu
  • Bêni
  • Bêné
Bukan
Buco'Busuk
CakalangTongkol
DinaSini
DitoDisitu
DiyêSitu
DukoDukuh
DulitColek
DumikKecil
  • Di-
  • -an
ÈgêlLekas
ÊncékKata sapaan lelaki (keturunan Tionghoa)
  • Êngkong
  • Akong
Kakek (keturunan Tionghoa)
ÈnomMinum
Ênya'Kata sapaan perempuan (keturunan Tionghoa)
GêndêngGendang
GêrimisNgeri
GiokTerlalu
HajênSeperti
  • Halik
  • Haling

Sedikit

Ila'Lidah
IyyêKata sapaan lelaki (keturunan Arab)
Jêbê
  • Luar
  • Jawa
JêkMasih
Ju-
Juko'Lauk
KalopaTerlupa
KandhêlTebal
  • Katon
  • Ton
  • Terlihat
  • Lihat
KêmbêngBunga
Kênda'Pendek
KonéngKuning
La'anSudah
LabungBiarkan
LanjêngPanjang
LajuLayu
LakarMemang
LèrTunjukkan
MammaBagaimana
MangkatBerangkat
MarèntoKala itu
Mé'anMungkin
MirahMerah
MonKalau
MorsalDurhaka
-na-nya
NapakSampai
NyaiNenek buyut (keturunan Jawa)
OcakUcap
OloKepala
PabilaKapan
PacénanPecinan
PalapaBumbu
  • Panggêk
  • Aranggêk
  • Tuai
  • Menuai
PaoMangga
ParakHampir
PatèTerlalu
PatèkAnjing
RajêRaya
RèaDia
RojêkRujak
SarèpahKata sapaan perempuan (keturunan Arab)
Sela'Sempit
SokêrAngkuh
SokoKaki
Taci'Kakak perempuan (keturunan Tionghoa)
  • Toa
  • Maratoa
  • Matoa-toa
  • Oréng Toa
  • Tua
  • Mertua
  • Sok-sokan
  • Orang Tua
YiYa

Kata Serapan

Secara historis, bahasa Kangean memiliki banyak pengaruh dari elemen linguistik bahasa lain, utamanya dari bahasa-bahasa yang berasal dari Sulawesi, Kalimantan, Bali, maupun Jawa. Hal ini mengingat bahwa Kangean secara geografis terletak diantara pulau-pulau tersebut, dan juga secara susur galurnya, sebagian besar masyarakat suku Kangean berketurunan Sulawesi (Bugis, Makassar, Bajo, Mandar, dsb.) yang memberikan pengaruh signifikan terhadap perbendaharaan kata dalam bahasa Kangean.

Bahasa Bajo

Bahasa Kangean Bahasa Bajo Arti dalam Bahasa Indonesia[11]
Diyê Atiye
  • Situ (bahasa Kangean)
  • Ini (bahasa Bajo)
Bêrak Berak Berat
Buco' Buco Busuk
Katon Katonan
  • Terlihat (bahasa Kangean)
  • Tahu (bahasa Bajo)
Mêlé Milli Beli
Ngèkét Ngeket Gigit
Ngota Nguta Muntah
Pao Pauh Mangga
Roma Roma Rumah
Sudu Sudu Sendok

Bahasa Bugis

Bahasa Kangean Bahasa Bugis Arti dalam Bahasa Indonesia[12]
Cakalang Cakalang Tongkol
Langè' Langi' Langit
Maté Mate Mati
Matoa Matoa Bersifat tua
Toa Toa Tua
Olo Ulu Kepala
Juko' Juku' Lauk

Bahasa Makassar

Bahasa Kangean Bahasa Makassar Arti dalam Bahasa Indonesia[13]
A (prefiks) A' (prefiks) -
Atè Ate Hati
Kalupa Kalúppa Terlupa
Kemma Kema Mana
Nyaman Nyaman Enak

Bahasa Banjar

Bahasa Kangean Bahasa Banjar Arti dalam Bahasa Indonesia[14]
Aling Ading Adik
Bêbinian Babinian Perempuan
  • Mun
  • Mon
Amun Kalau
Lalakèan Lalakian Lelaki
Nginum Nginum Minum
Pabila Pabila Kapan
Parak Parak Hampir

Bahasa Bali

Bahasa Kangean Bahasa Bali Arti dalam Bahasa Indonesia[15]
Dito Ditu Situ/Sana
Êna Ene Ini
Ênto Ento Itu
Jêbê Jawê Luar/Jawa
Paséra Sira Siapa
Patut Patut Benar

Bahasa Jawa

Bahasa Kangean Bahasa Jawa Arti dalam Bahasa Indonesia[16]
Ano Anu Ambiguitas
Arêp Arêp Mau
Bêcèk Bêcik Baik
Bêjêh Wayah Waktu
Bêlu' Wolu Delapan
Gêndêng Gêndang Gendang
Ila' Ilat Lidah
Jêbê Jåbå Luar
Jêk Jék (dialek Jawa Timur) Masih
Kandhêl Kandhêl Tebal
Kêmbêng Kêmbang Bunga
Lakar Lakar Memang
Lèmang atos Limang atus Lima ratus
Lèr Lèr Tunjukkan
La'an La'an (dialek Jawa Timur) -
Mangkat Mangkat (dialek Jawa Tengah) Berangkat
Marè Mari Sudah
Nyai Nyai
  • Nenek buyut (keturunan Jawa; bahasa Kangean)
  • Nyai (bahasa Jawa)
Pèto' Pitu Tujuh
Pètong atos Pitung atus Tujuh ratus
Rojêk Rujak Rujak
Sanga Sångå Sembilan
Têlo' Têlu Tiga
Têlong atos Têlung atus Tiga ratus

Bahasa Sunda

Bahasa Kangean Bahasa Sunda Arti dalam Bahasa Indonesia[17]
Soko Suku Kaki

Lihat Juga

Referensi

  1. "Total Populasi berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Sumenep". sumenepkab.bps.go.id. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep. 2013. Diakses tanggal 31 December 2020. Data Kecamatan Sapeken, Kecamatan Arjasa, Kecamatan Kangayan di Kangean
  2. Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Kangean". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History.
  3. Kangean Speaking Peoples - Joshua Project
  4. H. N. Kiliaan. 1897. Kangeansch. In Morphology and Syntaxis, 153-176. Batavia: Landsdrukkerij.
  5. Eberhard, David M.; Simons, Gary F.; Fennig, Charles D. (2021). "Ethnologue: Languages of the World" (dalam bahasa Inggris). Dallas: SIL International.
  6. "Kangean language" [Bahasa Kangean,Bhasa Kangean]. Glottolog 4.4 (dalam bahasa Inggris).
  7. Bustami, Abd. Latif (2004). "Folklor Kangean: Suatu Kajian Cerita Bajak Laut (Lanun) Sebagai Sumber Sejarah Kawasan" [The Folklore of Kangean: Study of the Folklore of the Pirates (Lanun) as the Source of Regional History] (PDF). Diakses tanggal 20 Januari 2021.
  8. Ronkel, PH. S. Van (1900). Een Uilenspiegel en een Dwerghert-verhaal in het Kangeansch (dalam bahasa Belanda). Albrecht & Co.-M. Nijhoff.
  9. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  10. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  11. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  12. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  13. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  14. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  15. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  16. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  17. "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bacaan lanjutan

  • David M. Eberhard and Gary F. Simons and Charles D. Fennig. 2021. Ethnologue: Languages of the World. Dallas: SIL International. (AES Status of Kangeanese language: Not Endangered, Kangean (kkv-kkv) = 6a* (Vigorous))
  • H. N. Kiliaan. 1897. Kangeansch. In Morphology and Syntaxis, 153-176. Batavia: Landsdrukkerij.
  • A. Teeuw. 1961. A Critical Survey of Studies on Malay and Bahasa Indonesia. (Koninklijk instituut voor taal-, land- en volkenkunde: Bibliographical Series, 5.) 's Gravenhage: Martinus Nijhoff. 179pp.
  • Alexander Adelaar. 2005. The Austronesian languages of South East Asia and Madagascar: a historical perspective. In Alexander Adelaar and Nikolaus Himmelmann (eds.), The Austronesian Languages of Asia and Madagascar, 1-41. London & New York: Routledge.

Pranala luar

This article is issued from Wikipedia. The text is licensed under Creative Commons - Attribution - Sharealike. Additional terms may apply for the media files.